Pendapatan Chandra Asri Tembus Rp137 Triliun, Didorong Kilang Minyak dan Petrokimia di Singapura
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) membukukan pendapatan hampir Rp137 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pada periode yang sama, perusahaan mencatat laba bersih sekitar Rp6,6 triliun setelah sebelumnya membukukan kerugian pada periode pembanding tahun lalu.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi mengatakan, kinerja tersebut mencerminkan hasil strategi ekspansi dan diversifikasi bisnis yang dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
"Strategi pertumbuhan Chandra Asri yang kita lakukan secara disiplin dan prudent itu memberikan hasil yang positif," ujar Suryandi di Jakarta Selatan, Senin (2/1/2026).
Selain pendapatan, EBITDA perusahaan juga berbalik positif. Suryandi menyebut EBITDA yang sebelumnya minus sekitar Rp534 miliar meningkat menjadi hampir Rp16,7 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan pendapatan adalah konsolidasi aset kilang minyak dan petrokimia Shell di Singapura yang diakuisisi pada 2025.
Aset tersebut baru dikonsolidasikan secara efektif sejak Mei 2025. Dengan demikian, kinerja sepanjang 2025 belum mencerminkan kontribusi aset selama satu tahun penuh, sedangkan pada 2026 kontribusinya tercatat lebih lengkap.
"Pendapatan, tadi saya cerita mengenai infrastruktur memberikan revenue stream yang baru. Dengan adanya Aster yang kita akuisisi tahun 2025, secara efektif kita handover ke kita itu di Mei 2025, jadi tahun 2025 belum tercatat full, tahun ini tercatat full," kata Suryandi.
Akuisisi tersebut menjadi bagian dari perubahan struktur bisnis Chandra Asri yang tidak lagi hanya bertumpu pada industri petrokimia. Perusahaan kini mengembangkan tiga pilar usaha, yakni energi dan kimia, infrastruktur, serta solusi mobilitas.
Pada sektor energi dan kimia, Chandra Asri mengembangkan bisnis kilang dan petrokimia melalui aset di Indonesia dan Singapura. Sementara itu, bisnis infrastruktur mencakup penyediaan listrik, air, tangki penyimpanan, kapal, dan pergudangan.
Adapun pada sektor mobilitas, perusahaan memperluas bisnis melalui jaringan SPBU Esso di Singapura serta akuisisi jaringan distribusi kendaraan Cycle & Carriage.
Suryandi menjelaskan, diversifikasi tersebut dilakukan untuk menciptakan sumber pendapatan tambahan di tengah karakter industri petrokimia yang cenderung siklikal. Perubahan harga bahan baku dan produk, serta ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, dapat menekan margin industri.
Melalui pengembangan bisnis infrastruktur dan mobilitas, perusahaan berharap dapat membangun sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan dan menopang kinerja grup ketika industri petrokimia menghadapi tekanan.
Meski demikian, perbandingan laba bersih dengan periode yang sama tahun lalu perlu memperhitungkan faktor akuntansi dari transaksi akuisisi Shell.
Pada 2025, Chandra Asri membukukan keuntungan akuntansi satu kali atau negative goodwill sekitar Rp28,4 triliun dari akuisisi tersebut. Keuntungan itu memengaruhi laba pada tahun lalu sehingga perbandingan laba bersih antartahun tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan kinerja operasional.
Karena itu, kinerja sembilan bulan pertama 2026 perlu dilihat bersama perkembangan pendapatan, EBITDA, serta kontribusi bisnis yang dikonsolidasikan perusahaan.
Baca Juga: Barito Pacific Raup Pendapatan US$8,69 Miliar per September 2026
Baca Juga: Investasi Rp15 Triliun, Chandra Asri Bangun Bisnis Baru di Luar Petrokimia
Ke depan, Chandra Asri juga melanjutkan ekspansi kapasitas dan pengembangan bisnis kimia. Salah satunya melalui pembangunan fasilitas chlor-alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) di Indonesia yang ditargetkan rampung pada paruh kedua 2027.
Perusahaan turut menyiapkan pengembangan condensate splitter unit di Singapura sebagai sumber bahan baku alternatif bagi industri petrokimia. Fasilitas tersebut ditargetkan selesai pada 2027.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat integrasi bisnis, meningkatkan fleksibilitas pasokan bahan baku, dan menjaga kinerja di tengah ketidakpastian pasar global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: