Kredit Foto: Antara/Abriawan Abhe
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan luas panen padi pada Oktober-Desember 2026 mencapai 1,54 juta hektare. Angka tersebut berpotensi turun 0,33 juta hektare atau 17,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan penurunan potensi luas panen tersebut terjadi di tengah kondisi El Nino yang pada 2026 tercatat lebih kuat dibandingkan fenomena serupa pada 2023.
“Kondisi El Nino di tahun 2026 secara umum lebih kuat dibandingkan dengan El Nino di tahun 2023 yang lalu,” ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).
Ateng menjelaskan, kondisi tersebut berdampak pada pertanaman padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Kesulitan memperoleh pasokan air di sejumlah wilayah tercermin dari penurunan luas lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop.
Berdasarkan pemantauan BPS, proporsi standing crop pada September 2026 tercatat sebesar 20%. Angka ini lebih rendah dibandingkan September 2023 yang mencapai 23,10%, atau menyusut 3,1 poin persentase.
“Hal ini tercermin dari penurunan tadi, penurunan yang untuk standing crop-nya atau luas pertanaman padi, turunnya itu 3,1 poin persentase pada September 2026 dibandingkan dengan September 2023,” jelasnya.
Selain itu, BPS mencatat luas panen padi pada September 2026 mencapai 0,91 juta hektare. Jumlah tersebut turun 19,40% dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare.
Baca Juga: Dihantam El Nino, Sawah DEB Uma Palak Tetap Hijau Royo-royo
Baca Juga: Jasindo Antisipasi Risiko Super El Niño, Perkuat Pengelolaan Risiko dan Layanan Klaim
Secara kumulatif, luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau turun 2,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan perkembangan tersebut, luas panen padi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 10,78 juta hektare, turun 4,80% secara tahunan.
BPS mengingatkan angka potensi luas panen Oktober-Desember 2026 masih dapat berubah. Perkembangannya bergantung pada kondisi pertanaman, termasuk serangan hama dan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, serta perubahan waktu panen petani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: