Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada awal perdagangan Rabu (4/11/2026). Pukul 09.03 WIB, rupiah spot ada di level Rp18.115 atau menguat 0,25% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp18.160 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.150 - Rp18.200. Sedangkan dalam perdagangan minggu ini bergerak pada rentang Rp18.000 - Rp18.320.
Ibrahim menuturkan pergerakan rupiah hari ini disebabkan kenaikan inflasi pangan pada Oktober menunjukkan bahwa tekanan harga kebutuhan pokok masyarakat masih cukup kuat.
Inflasi pangan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir karena gangguan pasokan yang dipengaruhi fenomena El Niño, sehingga produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan terganggu.
"Akibatnya, harga beras, cabai, sayuran, dan bahan pangan lainnya berpotensi meningkat," kata Ibrahim kepada wartawan.
Bagi pasar, kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan harga pangan dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah.
Meskipun inflasi umum sedikit melandai dan masih berada dalam target Bank Indonesia, kenaikan inflasi pangan menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup belum sepenuhnya mereda.
Selain itu, kondisi surplus neraca perdagangan Indonesia masih menghadapi tantangan. Meskipun pada September 2026 surplus perdagangan mencapai US$3,36 miliar tercatat lebih kuat dari perkiraan, tekanan tetap muncul karena pertumbuhan impor lebih cepat dibandingkan ekspor.
"Artinya, nilai barang yang masuk ke Indonesia meningkat lebih besar dibandingkan nilai barang yang dijual ke luar negeri," kata dia.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.159, Ini Sentimen yang Membayangi
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.145, Ditopang Surplus Neraca Perdagangan
Kenaikan impor, lanjut Ibrahim, sebenarnya bisa menjadi indikasi meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan aktivitas industri dalam negeri. Namun, jika pertumbuhan impor terus melampaui ekspor, selisih surplus perdagangan akan semakin menyempit.
"Kuncinya adalah apakah kenaikan impor mampu mendorong kapasitas produksi dan ekspor Indonesia, atau justru membuat surplus perdagangan semakin menipis," ujar dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: