Kredit Foto: Krakatau Steel
PT Krakatau Posco masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan bijih besi yang mencapai sekitar 5 juta ton per tahun. Kondisi tersebut terjadi di tengah belum optimalnya pengembangan industri pengolahan bijih besi dalam negeri, meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang dapat dikembangkan.
Direktur Komersial PT Krakatau Posco Haryanto mengatakan, kebutuhan bijih besi tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan produksi baja perusahaan.
"Bijih besi Krakatau Posco membutuhkan 1 tahun 5 juta ton, terbayang enggak angka 5 juta ton?" ujar Haryanto dalam paparan di Minerba Convex 2026, Jakarta, Selasa (4/11/2026).
Haryanto menggambarkan besarnya kebutuhan tersebut melalui perbandingan dengan penumpukan bijih besi di area penyimpanan perusahaan. Dia menyebut, tumpukan setinggi 5 meter setara dengan sekitar 10.000 ton, sementara kebutuhan Krakatau Posco mencapai 5 juta ton setiap tahun.
Menurut Haryanto, ketergantungan terhadap impor tersebut membuka peluang bagi perusahaan pertambangan domestik untuk mengembangkan pasokan bijih besi lokal.
"Bijih besi memang masih impor. Artinya apa? Berarti ada potensi kemungkinan diganti oleh lokal," katanya.
Namun, pengembangan industri bijih besi dalam negeri membutuhkan dukungan pemerintah, terutama pembangunan infrastruktur pelabuhan dan akses jalan. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk memperlancar distribusi bijih besi dari wilayah pertambangan menuju fasilitas pengolahan.
Haryanto menyebut potensi bijih besi Indonesia tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra, Taliabu di Maluku, dan Kalimantan Tengah. Meski demikian, karakteristik kandungan mineral pengotor di beberapa wilayah masih menjadi tantangan dalam proses pengolahan.
Baca Juga: Konsumsi Baja RI Capai 18 Juta Ton, Krakatau Posco Soroti Tekanan Produk China
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Resmi Gabung 2 Anak Usaha
Dia menjelaskan, bijih besi dari Sumatra relatif memiliki kandungan pengotor lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lainnya. Sementara itu, bijih besi dari Taliabu dan Kalimantan Tengah memiliki kandungan mineral lain, seperti seng dan timah, yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
"Sumatra itu bijih besinya bersih, enggak ada pengotor titanium, enggak ada pengotor Zn, enggak ada pengotor Sn," jelasnya.
Selain bijih besi, Krakatau Posco juga membutuhkan sekitar 2 juta ton batu bara metalurgi setiap tahun untuk mendukung proses produksi baja.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: