Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Kenapa Belum Semua Masyarakat Merasakannya?

        Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Kenapa Belum Semua Masyarakat Merasakannya? Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% pada kuartal III-2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum bisa dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. 

        Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud menjelaskan, angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS merupakan gambaran kondisi perekonomian secara agregat, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan keadaan setiap kelompok masyarakat.

        “Jadi memang pertumbuhan ekonomi yang disampaikan di sini berupa pertumbuhan ekonomi secara makro. Kalau kita ingin melihat lebih detail lagi, khususnya terkait daya beli, pada kelompok-kelompok berbentuk berarti seperti kelompok berbentuk berbeda perlu dikaji,” beber Edy,  dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, Kamis (5/11/2026).

        Pertumbuhan ekonomi secara makro perlu dilihat lebih terperinci berdasarkan sektor usaha maupun kelompok masyarakat. Sebab, tidak semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan dengan kecepatan yang sama.

        Menurut dia, masyarakat yang bekerja atau menggantungkan pendapatan pada sektor dengan pertumbuhan tinggi, mungkin merasakan perbaikan ekonomi. Sebaliknya, masyarakat yang berada di sektor dengan pertumbuhan lebih rendah belum tentu merasakan dampak yang sama.

        "Kalau bicara lapangan usaha itu ada 17 kategori lapangan usaha. Kalau kecilnya lagi ada 52 sub kategori. Maka memang kemudian bisa saja orang-orang yang tidak merasa tumbuh itu memang tidak berada pada sektor-sektor yang tumbuhnya cukup tinggi," 

        Edy menambahkan, kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi yang secara statistik terlihat positif masih diiringi keluhan masyarakat mengenai sulitnya kondisi ekonomi. Menurutnya, pengalaman ekonomi yang dirasakan setiap orang dapat berbeda, bergantung pada sektor usaha dan wilayah tempat mereka beraktivitas.

        “Jadi tidak merasakan bahwa memang betul-betul tumbuh. Setiap dari kita kadang-kadang merasakan hanya apa yang kita rasakan tapi tidak merasakan apa yang tidak biasa,” jelas Edy. 

        Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,47 Persen di Kuartal III-2026

        Baca Juga: Pakar Nilai Indonesia Perlu Beralih ke Industri Berteknologi Tinggi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

        Dia mengatakan, keluhan yang muncul di media sosial umumnya menggambarkan pengalaman kelompok atau wilayah tertentu. Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi BPS mencakup kondisi perekonomian secara nasional.

        "Di antara 280 juta penduduk di Indonesia pasti masih ada yang mengalami tekanan kekurangan. Namun untuk mengetahui lebih detail diperlukan analisis dengan data yang lebih spesifik dan eksploratif," jelasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: