Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp18.082 per dolar AS atau menguat 86 poin dibandingkan penutupan sebelumnya Rp18.168.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah hari ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 sebesar 5,47% (yoy) menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat dan mengalami perbaikan dibandingkan kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29%.
"Kenaikan ini mengindikasikan konsumsi masyarakat, aktivitas usaha, investasi, dan belanja pemerintah masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi," kata dia kepada wartawan.
Jika dibandingkan dengan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%, pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan perlambatan secara keseluruhan. Artinya, pemulihan ekonomi belum sepenuhnya merata dan masih perlu didukung oleh peningkatan daya beli masyarakat serta investasi sektor swasta.
Namun, pasar tetap akan mencermati kualitas pertumbuhan, terutama daya beli masyarakat, inflasi, nilai tukar rupiah, dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Jika pertumbuhan terus terjaga tanpa tekanan inflasi yang tinggi, hal ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Selain itu, penambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp500 triliun pada 2026 dinilai dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi domestik. Dengan subsidi yang lebih besar, pemerintah berupaya menahan kenaikan harga BBM, listrik, dan energi lainnya agar tidak langsung membebani masyarakat.
"Kebijakan ini penting di tengah kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor energi," jelas dia.
Baca Juga: Geger! Bank Prancis Diserang Hacker, Dana Triliunan Rupiah Berhasil Dibobol
Baca Juga: Pemerintah Cari Sumber Devisa Baru untuk Perkuat Ketahanan Rupiah
Oleh karena itu, lanjut Ibrahim, tambahan subsidi berpotensi menjaga konsumsi rumah tangga dan menahan tekanan inflasi dalam jangka pendek. Dari sisi fiskal, investor perlu mencermati peningkatan beban APBN karena semakin besar subsidi energi, semakin terbatas ruang anggaran pemerintah untuk belanja produktif dan pembangunan.
"Jika harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, risiko pelebaran defisit anggaran juga perlu diperhatikan," ungkap dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: