- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Dari Pengeboran hingga Teknologi, 4 Kerja Sama Migas RI Terjalin di ADIPEC 2026
Kredit Foto: SKK Migas
Indonesia menghasilkan empat kerja sama strategis antara perusahaan nasional dan mitra internasional dalam gelaran Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kerja sama tersebut mencakup jasa pengeboran, perkapalan, survei dan pemetaan, serta teknologi chemical reservoir stimulation.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, kerja sama internasional diperlukan untuk mempercepat pemanfaatan potensi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Pasalnya, pengembangan sumber daya migas tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan cadangan, tetapi juga membutuhkan investasi, teknologi, dan keahlian teknis.
“Untuk dapat memanfaatkan potensi ini, sumber daya alam saja tidaklah cukup. Diperlukan investasi, teknologi canggih, keahlian teknis, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional,” jelasnya dalam keterangan resmi.
Selain menghasilkan empat kerja sama tersebut, SKK Migas juga menggelar sejumlah pertemuan bisnis dengan perusahaan energi global selama ADIPEC 2026. Pada Rabu (4/11), pertemuan dilakukan dengan perusahaan rekayasa global JGC Holdings Corporation dan perusahaan migas asal Italia, Eni.
Sebelumnya, SKK Migas juga telah menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan INPEX, Samsung, dan sejumlah mitra bisnis lainnya.
Pertemuan dengan Eni dan INPEX berlangsung di tengah pengembangan proyek gas berskala besar di Indonesia. Pada April 2026, Eni mengumumkan penemuan gas melalui sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur. Penemuan tersebut memiliki estimasi sumber daya in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat.
Sementara itu, proyek LNG Abadi yang dikembangkan INPEX di Blok Masela, Maluku, telah memasuki tahap pembangunan fisik sejak Juli 2026. Proyek tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun dan memasok gas untuk kebutuhan domestik sebesar 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Dalam rangkaian ADIPEC 2026, Djoko juga menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Global LNG Market Trends and Outlook pada Selasa (3/11). Dalam forum tersebut, dia membahas keseimbangan antara komitmen ekspor gas dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Djoko menegaskan, kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas pemerintah sebelum gas dialokasikan untuk ekspor. Dia juga menyebut fleksibilitas kontrak dapat membantu pembeli dan penjual menyesuaikan diri ketika terjadi perubahan permintaan.
Baca Juga: SKK Migas Sebut 30 Juta Barel Minyak UEA Tanpa Biaya Modal Kerja, Ini Kata Bahlil
Baca Juga: Kejar Lifting Minyak 612.500 BPH 2027, Begini Strategi SKK Migas
“Kami menegaskan kepada pembeli gas internasional bahwa prioritas utama Indonesia adalah memenuhi kebutuhan domestik. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, baru kami dapat melakukan ekspor. Saat permintaan domestik meningkat, pemerintah Indonesia akan duduk bersama dengan para konsumen gas internasional dan berdiskusi untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak,” jelas Djoko dalam diskusi.
Partisipasi Indonesia dalam ADIPEC 2026 turut didukung oleh 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: