Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        89% Perusahaan Rombak Use Case AI akibat Lonjakan Biaya

        89% Perusahaan Rombak Use Case AI akibat Lonjakan Biaya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lonjakan biaya, tuntutan tata kelola, dan aturan kedaulatan data mulai mengubah strategi penerapan kecerdasan buatan (AI) di perusahaan. Laporan The State of Enterprise AI 2026 yang dirilis Cloudera mencatat, sebanyak 89% perusahaan membatasi atau merancang ulang penggunaan AI akibat meningkatnya konsumsi token.

        Laporan bertajuk The New Rules of Scale tersebut disusun berdasarkan survei Wakefield Research terhadap 1.500 pemimpin dan pengambil keputusan bidang teknologi informasi (TI) di berbagai negara pada September 2026.

        Selain persoalan biaya, sebanyak 84% responden menyatakan persyaratan lokasi penyimpanan data (data residency), kedaulatan data, dan yurisdiksi turut memengaruhi lokasi perusahaan dalam menjalankan beban kerja AI.

        Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi penggunaan AI tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi biaya, kepatuhan regulasi, dan pengelolaan data.

        Di Indonesia, investasi AI tercatat terus meningkat. Sebanyak 88% perusahaan meningkatkan investasi AI secara tahunan, sementara 70% di antaranya mengalokasikan sedikitnya US$500.000 per tahun untuk teknologi tersebut.

        Namun, peningkatan investasi belum sepenuhnya menghilangkan kendala operasional. Laporan Cloudera mencatat, 65% perusahaan di Indonesia menghadapi hambatan terkait tata kelola dan kepatuhan (governance and compliance).

        Selain itu, 55% perusahaan terkendala kekurangan keterampilan, 45% menghadapi tantangan integrasi data, dan 45% lainnya berhadapan dengan tuntutan kedaulatan data.

        Persyaratan lokasi penyimpanan dan yurisdiksi data juga memengaruhi keputusan 88% organisasi di Indonesia dalam menentukan penempatan beban kerja AI. Sebanyak 53% perusahaan bahkan menggunakan arsitektur multi-environment untuk menjaga kedaulatan data.

        Secara global, tantangan penerapan AI juga terlihat dari tingginya angka kegagalan operasional. Sebanyak 98% responden mengaku pernah mengurangi atau menghentikan penerapan AI akibat kegagalan sistem, halusinasi, maupun perilaku teknologi yang tidak terduga.

        Baca Juga: Pemerintah Perluas Pajak Digital, Streaming hingga Cloud Bisa Bayar Lebih Mahal

        Sementara itu, 75% responden menyebut tata kelola dan kepatuhan sebagai kendala dalam memperluas penggunaan AI. Sebanyak 55% lainnya menyatakan biaya untuk memenuhi aspek tersebut meningkat lebih cepat dari perkiraan.

        Dari sisi infrastruktur, 45% perusahaan mengaku telah memindahkan beban kerja AI karena biaya yang lebih tinggi atau sulit diprediksi. Adapun 58% responden menyebut pemindahan beban kerja membutuhkan perancangan ulang dalam skala sedang hingga besar akibat persyaratan kedaulatan dan lokasi penyimpanan data.

        CTO Applied AI Cloudera, Brian Martin, mengatakan peningkatan skala penggunaan AI menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan, terutama terkait kelayakan ekonomi dan operasional.

        Menurutnya, perubahan biaya, perkembangan model AI, serta regulasi membuat perusahaan perlu menyesuaikan strategi penerapan teknologi tersebut secara berkala.

        "Para pemimpin membutuhkan strategi AI yang dirancang untuk menghadapi realitas tersebut, yaitu strategi yang memberi mereka kebebasan untuk beradaptasi tanpa kehilangan kendali atas data, tata kelola, atau pengeluaran mereka," ujar Brian.

        Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta, mengatakan perusahaan di Indonesia tengah mempercepat investasi AI. Namun, kompleksitas tata kelola, kesenjangan keterampilan teknis, dan fluktuasi biaya inferensi masih menjadi tantangan.

        Dia menilai pendekatan hybrid dapat menjadi salah satu opsi bagi perusahaan untuk menjalankan beban kerja AI di berbagai lingkungan, mulai dari infrastruktur lokal (on-premises), sovereign cloud, hingga multi-cloud.

        Laporan tersebut juga mencatat sejumlah prioritas yang akan diperbaiki perusahaan jika dapat mengulang perjalanan adopsi AI dari awal. Sebanyak 49% responden akan memperkuat tata kelola sejak tahap awal, 46% memprioritaskan kualitas data, dan 45% memilih mempercepat modernisasi infrastruktur.

        Selain itu, 45% responden menyatakan akan meningkatkan investasi pada pelatihan karyawan.

        Temuan ini memperlihatkan bahwa tantangan perusahaan dalam mengembangkan AI tidak berhenti pada investasi teknologi. Kesiapan sumber daya manusia, kualitas data, tata kelola, serta efisiensi infrastruktur turut menentukan keberlanjutan penerapannya.

        Tajamkan judul dengan fokus biayaRingkas pengulangan tantangan AI

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Istihanah
        Editor: Istihanah

        Bagikan Artikel: