Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengamat Sebut Jokowi Masih Punya Modal Politik, PSI Jadi Salah Satu Panggungnya

        Pengamat Sebut Jokowi Masih Punya Modal Politik, PSI Jadi Salah Satu Panggungnya Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai masih berpotensi memainkan peran dalam konfigurasi politik nasional menjelang Pemilu 2029, terutama terkait penguatan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan masa depan politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

        Pengamat politik Iyyas Subiakto menilai pengaruh Jokowi tidak semata-mata bergantung pada jabatan formal yang pernah diembannya, tetapi juga ditopang jaringan politik, pengalaman kepemimpinan, serta basis dukungan yang terbentuk selama dua periode menjabat sebagai presiden.

        Ketika ditanya mengenai besarnya pengaruh Jokowi terhadap masa depan politik Gibran, Iyyas menilai pengaruh tersebut masih sangat signifikan.

        “Sangat besar apalagi kalau Pak Jokowi akan menjadi Ketum PSI,” ujar Iyyas dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).

        Pernyataan Iyyas tersebut mengacu pada kemungkinan Jokowi mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan PSI. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan bahwa Jokowi akan menggantikan putranya, Kaesang Pangarep, sebagai Ketua Umum PSI.

        Sebelumnya, Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menyampaikan bahwa Jokowi direncanakan dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI pada November 2026. Sementara itu, Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus pada Oktober lalu menyatakan belum ada rencana menjadikan Jokowi sebagai Ketua Umum partai tersebut.

        Jokowi sendiri telah secara terbuka menyatakan bergabung dengan PSI dan menunjukkan kartu tanda anggota partai pada September 2026. Keterlibatannya menjadi bagian dari upaya PSI memperkuat organisasi dan membangun jaringan politik hingga tingkat akar rumput menjelang Pemilu 2029.

        Iyyas berpandangan, apabila Jokowi mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan partai, pengaruh tersebut berpotensi ikut membentuk arah konsolidasi politik nasional. Hal itu juga dapat berpengaruh terhadap posisi figur-figur politik yang memiliki hubungan politik dengannya, termasuk Gibran.

        Ia mengaitkan dinamika tersebut dengan proses regenerasi kepemimpinan nasional yang diperkirakan semakin mengemuka menjelang kontestasi politik 2029.

        “Ini momentum masa transisi antar generasi dan transformasi,” katanya.

        Menurut Iyyas, pergantian generasi kepemimpinan perlu diikuti pembaruan dalam penyelenggaraan negara. Ia menilai orientasi pemerintahan tetap harus diarahkan pada kepentingan masyarakat, bukan kepentingan kelompok politik tertentu.

        “Setelah menang pemilu atau pilpres mereka adalah pegawai rakyat,” ujarnya.

        Meski demikian, besarnya pengaruh Jokowi dalam politik nasional pada 2029 masih akan dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya kemampuan PSI memperkuat struktur organisasi dan dukungan pemilih, perkembangan hubungan politik antarkekuatan partai, serta respons masyarakat terhadap keterlibatan Jokowi dalam aktivitas politik setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

        Baca Juga: Relawan Jokowi Wanti-Wanti, Pemakzulan Gibran Cuma Pemanasan Buat Lengserkan Prabowo

        Baca Juga: PDIP Tantang Bongkar Otak Penyadapan Prabowo, Singgung Geng Jokowi

        Sementara itu, masa depan politik Gibran juga tidak hanya ditentukan oleh jaringan dan pengaruh politik ayahnya, tetapi turut berkaitan dengan kinerja pemerintahan, dinamika koalisi, serta konfigurasi politik menjelang Pemilu 2029.

        Dengan demikian, keterlibatan Jokowi di PSI menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati dalam membaca arah konsolidasi partai dan regenerasi kepemimpinan nasional menuju kontestasi politik mendatang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: