Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saiful Mujani sebut Listyo Sigit Berani Menyadap Presiden karena Jokowi Frustasi Komunikasi dengan Prabowo Terputus

        Saiful Mujani sebut Listyo Sigit Berani Menyadap Presiden karena Jokowi Frustasi Komunikasi dengan Prabowo Terputus Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta, Saiful Mujani, mengaku tidak menyangka mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diduga terlibat dalam penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

        Menurut Saiful, Listyo memiliki kontribusi besar dalam kemenangan Prabowo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ia menilai kemenangan tersebut tidak lepas dari dukungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan jaringan komando di Polri yang dimilikinya.

        “Pak Sigit itu kontribusinya sangat besar memenangkan Pak Prabowo. Jadi, bukan karena faktor Pak Prabowo sendiri dia bisa jadi presiden. Faktor Pak Jokowi juga sangat penting dari data yang saya punya,” kata Saiful dalam 2045, dikutip Jumat (6/11).

        Ia juga menyebut Listyo sebagai salah satu operator politik Jokowi dalam upaya memenangkan Prabowo. Saiful mengaitkan peran tersebut dengan istilah “Partai Cokelat” atau “Parcok” yang selama ini muncul dalam perbincangan politik.

        "Operator Pak Jokowi untuk memenangkan Pak Prabowo, semua orang tahu ya Parcok (Partai Cokelat), Parcok komandannya ya Pak Sigit. Makanya saya enggak paham kok bisa Pak Sigit menyadap Pak Prabowo,” ujarnya.

        Saiful kemudian mengaitkan dugaan penyadapan tersebut dengan hubungan politik antara Prabowo dan Jokowi yang menurutnya tidak lagi berjalan lancar.

        Ia menduga renggangnya komunikasi kedua tokoh tersebut menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi perubahan situasi politik. Saiful bahkan menafsirkan dugaan penyadapan itu sebagai bentuk perlawanan dari kubu Jokowi setelah hubungan politik keduanya mengalami masalah.

        Lebih jauh, Saiful menduga tindakan tersebut berkaitan dengan upaya mengantisipasi kemungkinan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

        “Perubahan karena komunikasi antara Prabowo-Jokowi relatif tak lancar atau terputus. Ini bentuk perlawanan Jokowi karena sudah frustrasi. Bagaimana caranya ini, sebagai langkah antisipasi untuk mencegah pemakzulan Gibran Rakabuming Raka,” kata Saiful.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: