Kapan Nyali Militer Israel Menipis? Jangan Berharap Sebelum Lenyapnya Dahiya Doctrine

Kapan Nyali Militer Israel Menipis? Jangan Berharap Sebelum Lenyapnya Dahiya Doctrine Kredit Foto: Austrian Union of Jewish Students

Israel terus menggempur habis-habisan Jalur Gaza tanpa memedulikan apakah korbannya warga sipil, pekerja medis, jurnalis, atau pejuang Palestina. Mereka juga tidak peduli jika korbannya adalah anak-anak tak berdosa. 

Juru bicara tentara Israel Jonathan Conricus mengakui komandannya tak terlalu tertarik dengan gencatan senjata. Hal itu ia sampaikan saat ditanya apakah serangan ke Gaza akan terus diintensifkan?

Baca Juga: Ramalan Sebut Umur Israel Tak Lebih dari 20 Tahun, CIA Bawa-bawa Disintegrasi Uni Soviet

"Saya tidak berpikir komandan saya sadar atau sangat tertarik (dalam gencatan senjata)," katanya ketika ditanya apakah serangan terhadap populasi Gaza bakal meningkat, dikutip laman TRT World, belum lama ini.

Ini adalah berita buruk bagi warga sipil Palestina. Premis inti kebijakan militer Israel di wilayah Palestina yang diduduki adalah "penolakan". Kebijakan militer Israel ini kemudian dikenal sebagai "Dahiya Doctrine".

Strategi militer mendapatkan namanya setelah Israel menyerang infrastruktur militer dan sipil di lingkungan Beirut pada 2006 usai perang dengan Hizbullah. Kebijakan ini pertama kali disebutkan oleh Institut Studi Keamanan Nasional (INSS), sebuah lembaga think-tank dengan ikatan dekat dengan pendirian politik dan militer Israel.

INSS menerbitkannya dalam sebuah makalah kebijakan "gaya tidak proporsional: konsep respons Israel mengingat perang Lebanon kedua."

Kebijakan itu menekankan bahwa dalam konflik dengan Hamas, tentara Israel harus menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dengan tindakan musuh dan ancaman yang dimilikinya.

Tindakan Israel di Gaza kini sangat mengindikasikan bahwa kebijakan tersebut saat ini sedang dijalankan oleh pasukan Israel. Pesawat tempur Israel telah sepenuhnya menghancurkan beberapa blok menara sipil di Gaza, dan serangan udara berlanjut membuat lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 17 anak, terbunuh.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini