Kolom Yuswohady: Twin Megatrends

Setelah sekitar empat dekade, sejak Orde Baru, kita melaksanakan pembangunan ekonomi secara sistematis, maka kinilah saatnya kita mulai menuai buahnya. Buah itu adalah munculnya apa yang saya sebut “twin megatrends” Indonesia, yang mulai menemukan critical mass-nya sekitar tiga tahun terakhir. Megatrend yang pertama adalah revolusi kelas menengah yang terjadi seiring dengan terlampauinya pendapatan per kapita kita US$3.000 per tahun.

Megatrend kedua ialah adanya fenomena bonus demografi (demographic bonus) yang terjadi karena membengkaknya jumlah penduduk produktif yang berpotensi menjadi mesin pertumbuhan (engine of growth) bagi perekonomian kita. Kedua megatrend ini adalah peristiwa langka sehingga momentumnya tidak boleh kita sia-siakan. Inilah jalan bagi Indonesia menuju masa-masa keemasan.

 

Megatrend #1: Revolusi Kelas Menengah

Seperti diketahui, sejak akhir 2010 lalu Indonesia telah berhasil melampaui angka ambang pendapatan per kapita US$3.000. Melihat pengalaman di negara-negara maju baru (emerging countries), dilampauinya “angka keramat” US$3.000 ini biasanya diikuti dengan proses pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam jangka waktu lama. Tembusnya angka US$3.000 biasanya juga menjadi indikasi makin dominannya kelas menengah (middle class) di Indonesia yang menjadi driver kemajuan ekonomi secara keseluruhan.

Berkat hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan di waktu-waktu sebelumnya, kini telah muncul kelompok masyarakat yang memiliki tingkat konsumsi yang tinggi (higher consumption), lebih berpendidikan, dan lebih knowledgeable. Mereka memiliki disposable income yang cukup untuk membeli produk dan layanan “advance” seperti mobil, AC, lemari es, TV flat, gadget terbaru, layanan perbankan dan asuransi, berwisata ke luar negeri, dan sebagainya.

Kuatnya permintaan dari kelas menengah inilah yang berpotensi mendorong tumbuhnya industri yang terkait secara meluas, yang pada gilirannya menggerakkan laju pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Dari perspektif mikro, munculnya kelas menengah dalam jumlah yang besar memungkinkan produk-produk advance yang dulunya tidak terjangkau oleh kantong kita akan menjadi terjangkau dan industrinya tumbuh dengan pesat.

 

Megatrend #2: Bonus Demografi

Megatrend kedua adalah munculnya bonus demografi yang kini telah kita nikmati dan akan mencapai puncaknya pada 2020–2030. Bonus demografi adalah bonus atau peluang (window of opportunity) yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15–64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya. Bagi suatu negara, berkah bonus demografi adalah sebuah momentum yang langka karena merupakan kejadian seabad sekali.

Di Indonesia, fenomena ini terjadi karena proses transisi demografi yang berkembang sejak puluhan tahun lalu dipercepat oleh keberhasilan kita menurunkan tingkat fertilitas, meningkatkan kualitas kesehatan, dan suksesnya program-program pembangunan sejak era Orde Baru hingga sekarang. Keberhasilan program seperti Keluarga Berencana (KB) selama berpuluh tahun sebelumnya telah mampu menggeser penduduk berusia di bawah 15 tahun (anak-anak dan remaja) yang awalnya besar di bagian bawah piramida penduduk Indonesia ke penduduk berusia lebih tua (produktif 15–64 tahun).

Struktur piramida yang “menggembung di tengah” semacam ini menguntungkan, karena, dengan begitu, angkatan kerja produktif tersedia dalam jumlah besar sehingga mereka bisa menjadi sumber penggerak pembangunan ekonomi. Dengan demikian, bonus demografi menjadi pilar peningkatan produktivitas suatu negara dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan SDM produktif.

 

Now or Never

Dua megatrend di atas adalah kejadian langka yang akan mendorong Indonesia memasuki tahun-tahun keemasan dalam kemajuan ekonominya. Oleh karena itu, tahun-tahun keemasan ini harus kita songsong dengan sebaik mungkin. Pertama, besarnya pasar domestik akibat tingginya permintaan konsumen kelas menengah harus bisa mendorong para pemain lokal untuk membangun daya saing agar jangan sampai pasar yang besar itu hanya diambil oleh pemain-pemain asing.

Kedua, munculnya bonus demografi menuntut kita untuk meningkatkan kualitas SDM, terutama kita-kita yang saat ini berada di rentang usia produktif 15–64 tahun. Kalau penduduk produktif yang berjumlah besar sebagai berkah bonus demografi itu kerjanya cuma malas-malasan, maka tentu saja mereka bukannya menjadi aset bangsa, melainkan justru menjadi benalu yang menggerogoti daya saing. Twin megatrends ini harus dimanfaatkan Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi utama dunia. Kalau kita tidak mampu melakukannya sekarang, saya takut peluang tersebut terlewatkan untuk selamanya: Now or Never.

 

Yuswohady

Penulis adalah pengamat bisnis

Blog: www.yuswohady.com

Twitter: @yuswohady

Foto: sufri

Video Pilihan

HerStory

Terpopuler

Terkini