Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Tiga Disrupsi dan Prospek Ekonomi 2019

Tiga Disrupsi dan Prospek Ekonomi 2019 Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Saat ini Indonesia sedang mengalami tiga disrupsi, yakni disrupsi teknologi, disrupsi politik dan disrupsi kepemimpinan. Hal ini tercermin dalam diskusi Outlook Ekonomi 2019 yang baru-baru ini diselenggarakan Warta Ekonomi dengan para pembicara: Suahasil Nazara (Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan R.I), Yohanes Santoso Wibowo (Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK), Raden Pardede (Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Moneter Fiskal dan Publik KADIN (Creco Consulting)), Firmanzah (Pengamat Ekonomi) dan Shinta W. Kamdani (Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau APINDO).

Disrupsi teknologi yang dibawa oleh perubahan teknologi digital (termasuk digital printing), artificial intellegence dan revolusi bioteknologi telah mengubah cara berbisnis. Bagi masyarakat yang kreatif, disrupsi teknologi bisa menjadi terobosan untuk mengembangkan bisnisnya lebih hebat lagi. Tapi, bagi yang tidak siap, akan menyebabkan ketinggalan kereta api.

Disrupsi politik dan ekonomi tercermin dari munculnya para pemimpin baru yang cenderung lebih populis. Isu-isu populis, yang akan membagi masyarakat dalam kelompok "kami" dan "mereka", menjadi dagangan politik yang akan membahayakan bangsa di masa depan. Bagi masyarakat yang merasa terpinggirkan, hal ini akan menjadi daya tarik yang hebat. Contohnya, Pilkada Jakarta, yang merupakan salah satu bukti keberhasilan strategi Populisme tersebut.

Faktanya, populisme tidak hanya subur di Indonesia, Presiden AS, Donal Trump, dengan slogan "Make America Great Again" adalah salah satunya. Demikian juga Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Turki, Recep Tayip Erdogan.

Akibatnya, masyarakat menjadi terkotak-kotak. Jika di Indonesia bisa dipakai isu agama, di Eropa dan AS yang laku isu migrasi dan Islamphobia. Tapi pada intinya, masyarakat dihadapkan pada ketakutan. Kemudian, para pemimpin populis berusaha akan memenuhi kebutuhan rasa aman akan ketakutan tersebut dengan janji-janji merebut kekuasaan dari kaum mapan.

Di level global, akibat dari Populisme adalah dengan munculnya kebijakan proteksionisme. Perang Dagang antara AS dan China adalah salah satu dampak dari proteksionisme Trump yang ingin melindungi perekonomian AS.

Akibat dari proteksionisme ini, maka peran AS sebagai polisi dunia mulai menurun. Di WTO kini seolah jadi WTI-1 karena AS lebih mementingkan diri sendiri. Demikian juga di PBB, jadi PBB-1 karena egoisme AS.

Maka benar jika Presiden Jokowi berkata bahwa "winter is coming", karena negara-negara besar sibuk bertarung dengan negara besar lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia?

"Faktor eksternal tidak dapat kita kendalikan," ujar Suahasil.

Semua pembicara dalam Outlook Ekonomi 2019 juga sepakat bahwa para pengusaha dan regulator Indonesia sebaiknya bersiap-siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Jangan khawatir, kata Suahasil, fundamental ekonomi Indonesia kuat dan resilient terhadap perubahan. Tapi, ya itu tadi, faktor eksternal memang tidak dapat kita kendalikan.

Baca Juga: Waspadalah! Permainan Sambo Disebut Sudah Tidak Beres: Mana Bisa Sapu Kotor Menyapu Bersih?

Penulis: Muhamad Ihsan
Editor: Kumairoh

Advertisement

Bagikan Artikel: