Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

IFC Dorong Penggunaan E-Money Pada Peritel Tradisional

Warta Ekonomi -

WE.CO.ID - Berdasarkan hasil survey yang digunakan International Finance Corporation (IFC) yang bersumber dari Business Monitor Information (BMI), sekitar 80% penjualan ritel di Indonesia merupakan hasil dari penjualan ritel tradisional, dengan menghasilkan sebesar US$138 juta.

IFC juga mencatat, peritel tradisional juga mampu menyerap 21% tenaga kerja di indonesia, dengan komposisi setiap peritel tradisional dikunjungi 50 pelanggan dengan membelanjakan Rp50.000 per hari.

IFC melihat, sektor ritel tradisional di Indonesia memiliki dampak yang besar pada peningkatan akses terhadap layanan keuangan dan hasil pembangunan ekonomi. Namun, terjadi kesenjangan yang terjadi antara peritel modern dan tradisional di Tanah Air. Kesenjangan terjadi ini terdapat di sisi pembayaran, peritel modern telah mengadopsi pembayaran secara digital (e-money) sedangkan peritel tradisional belum.

Dengan kesenjangan digital yang terjadi pada proses pembayaran rantai distribusi, akan membatasi potensi ritel tradisional untuk memberikan dampak pada pengembangan ekonomi.

Menurut Ivan Mortimer-Schutts, East Asia and Pacific Regional Advisor for Payments and Retail Banking IFC, kesenjangan antara peritel modern dan peritel tradisional yakni, peritel modern memiliki rantai distribusi yang terintegrasi secara digital sehingga menciptakan sinergi di antara penggunanya. Standar bersama membuat informasi yang mengalir lebih efektif di antara pemasok, peritel dan bank untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi dan proses otomasisasi.

Sedangkan peritel tradisional, biasanya berbasis uang tunai dan mempunyai keterbatasan integrasi dengan pemasok atau bank untuk mengelola pembelanjaan, persediaan dan pembayaran. Tanpa teknologi yang kompatibel, mereka hanya mendapatkan sedikit keuntungan dari standar dan infrastruktur yang digunakan oleh pelaku bisnis yang lebih besar dalam rantai distribusi ini.

Ivan mencontohkan, "Dengan data yang dimiliki bersama antara peritel modern bersama dengan perbankan membuat peritel modern lebih mudah untuk melakukan pinjaman keperbankan untuk ekspansinya. Namun berbeda dengan peritel modern, sejibgga mereka sedikit kesulitan untuk berkembang," katanya, di Jakarta, Selasa (17/12/2013).

Oleh karena itu IFC bersama stakeholder lainnya akan melakukan suatu kelompok kerja guna mengajak para peritel tradisional untuk mulai mengadopsi e-money. Nantinya, IFC akan membuat produk e-money dapat kompatibel dengan standar pembayara , aturan bisnis dan mekanisme pembayaran.

"Maka tahun 2014 kita akan kick off meeting untuk launching program ini. IFC telah mendiskusikan dengan regulator terkait hal ini dan beberapa inisiatif lain, termasuk digital inclusion agar memiliki pemikiran yang sama. Supaya peritel di indonesia mendapatkan manfaat dari hal ini," tambah Indonesia Program Manager, Access to Finance Advisory Services IFC, Anastassiya Marina, dalam kesempatan yang sama.

Lebih lanjut Ana menyebutkan bahwa, IFC akan menjadi penengah agar proses ini terjadi secepatnya. "Agar para peritel kecil bisa memanfaatkan pembayaran digital secara cepat," tutup Anna. 

(Annisa Nurfitriani)

Foto : ifc

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Muhamad Ihsan

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: