Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Mesin Kacang Goyang Buatan Baristand Industri Samarinda

Warta Ekonomi -

WE Online, Samarinda - Balai Riset dan Standardisasi Industri, Kementerian Perindustrian, Samarinda, Kalimantan Timur  (Baristand Industri Samarinda) berhasil menciptakan mesin pembuat kacang goyang, panganan dari kacang tanah berbalut gula berduri. Seperti yang dijelaskan olah Tatik Purwati, Kepala Seksi Pengembangan Jasa Teknik & Marketing, Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda di  beberapa waktu lalu, Kacang Goyang ( Kacang Disco)  merupakan salah satu makanan khas Sulawesi Utara yang terkenal hingga ke Kalimanatan Timur. Di Kalimantan Timur pembuat Kacang Goyang  juga mulai tumbuh, salah satuanya adalah “ Cici” sebuah UKM di Kabupaten Kutai Kartanegara yang berdiri sejak 2006.

Semula, jelas Tatik, kacang goyang dibuat dengan cara sederhana  yaitu dengan cara menggantung tampah bambu berisi kacang tanah di atas kompor yang menyala. Tampah bambu lalu digoyang-goyang sementara cairan gula yang diberi pewarna herbal dari bawang tiwai (merah), kunyit akar kuning (kuning), dan pandan (hijau), menetes diatasnya. Dengan cara seperti ini secara berlahan kacang tanah tersebut akan berbalut gula dengan tekstur berduri yang menjadi ciri khas kacang goyang/kaacang diso tersebut.

“Cara tradisional ini kurang efktif, tingkat produksinya rendah yakni hanya 9-10 kg/hari.selain itu cara tradisional sangat tergantung oleh peran manusia (pembuat),” ujar Tatik.

Untuk merekayasa cara tradisional  pembuatan Kacang Goyang tersebut, lalu Baristand Industri Samarinda di jalan Banggeris  no. 1 Samarinda, Kalimantan Timur ([email protected]) membuat alat yang mnggunakan mesin. Alat ini menggunakan rangka dari pelat baja dengan tiga nampan berukuran total 1485 mm x 48 5mm x 60 mm, dan motor ½ Hp, I phasa dan 1400 rpm dan tiga buah kompor gas.

Dengan alat rakayasa yang yang telah didaftar ke  Ditjen HKI kementerian Hukum dan Ham ini hasil yang didapat selain kualitas lebih baik dari  segi volume menghasilkan 7 kali lebih banyak dengan waktu 50% lebih cepat, bahan bakar lebih hemat serta hanya memerlukan 1 orang operator dibanding alat tradisional. Soal harga alat rekayasa ini, Tatik menuturkan, alat ini dijual seharga Rp25 juta.

Sufri Yuliardi

Foto: SY

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: