Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Dengarin nih! Masyarakat Nggak Butuh Percepatan Penanganan Pandemi, tapi...

Dengarin nih! Masyarakat Nggak Butuh Percepatan Penanganan Pandemi, tapi... Kredit Foto: Akurat
Warta Ekonomi -

Indikator Politik Indonesia mencatat hasil survei menunjukkan masyarakat menilai kebutuhan mendesak saat ini sudah bergeser.

Jika sebelumnya mayoritas masyarakat mengatakan kebutuhan mendesak mereka adalah percepatan penanganan wabah, saat ini masyarakat cenderung mengatakan kebutuhan mendesak mereka saat ini adalah ketersediaan lapangan pekerjaan.

"Survei-survei kami di tahun 2021 terutama pada saat Covid-19 varian Delta. Mereka menginginkan agar pemerintah menangani wabah biasanya di peringkat pertama. Nah tapi beberapa survei terakhir terutama setelah varian Delta berlalu itu isu ekonomi yang mendominasi," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei yang digelar secara daring, Minggu (9/1/2022). Baca Juga: Pekan ini, Indonesia Terima Lebih 4.4 Juta Dosis Vaksin COVID-19

Survei yang bertajuk 'Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19, Pandemic Fatigue, dan Dinamika Elektoral Jelang 2024' tersebut dilaksanakan pada pertengahan 6-11 Desember 2021. Survei ini melibatkan 2020 responden berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah saat diwawancarai. Margin of error dari survei ini sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Survei tersebut mengungkapkan, sebanyak 33 persen responden menilai permasalahan mendesak saat ini adalah permasalahan lapangan pekerjaan.

"Jadi pertama yang diinginkan agar masalah diatasi secara segera oleh pemimpin nasional adalah menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran. Ini 33 persen. Yang kedua isu korupsi ada di kisaran 14,4 persen," papar Burhanudin.

Menanggapai hal tersebut, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan setidaknya tiga solusi yang sedang disiapkan pemerintah untuk mengurangi pengangguran.

Sebab, ia menerangkan, pertumbuhan ekonomi nasional saat ini didominasi oleh sektor konsumsi yakni 57 persen, sedangkan 31 persennya sektor investasi.Menurutnya, daya beli masyarakat bisa terjadi kalau ada kepastian pendapatan. Kepastian pendapatan bisa terjadi kalau lapangan ada pekerjaan. Artinya, lapangan pekerjaan ini lagi-lagi didorong oleh sektor swasta.

"Bagaimana caranya? UU Cipta Kerja itu memangkas semua perizinan. Jadi kita pangkas semua perizinan dalam rangka mempercepat proses teman-teman mendirikan usaha," papar Bahlil dalam acara tersebut. Baca Juga: Catat, 10 Gejala Tidak Biasa Covid-19 Akibat Varian Omicron

Yang kedua, kata Bahlil, masyarakat yang baru selesai kuliah/sekolah, didorong untuk menjadi entrepreneur. Sebab, dunia usaha di Indonesia itu baru 3,6 persen. "Idealnya kita harus double digit," katanya.

Ketiga, Bahlil mendorong investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk segera mengeksekusi perencanaan-perencanaan investasi mereka. "Karena yakinlah bahwa penciptaan lapangan pekerjaan itu tidak akan mungkin disiapkan seluruhnya oleh negara dalam artian oleh pemerintah," pungkas Bahlil.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Akurat. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Akurat.

Editor: Fajar Sulaiman

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan