Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Sudah Tentaranya Kocar-Kacir, Kini Putin Dihadapkan Petisi Para Politikus: Resign Jadi Jalan Keluar yang Damai

Sudah Tentaranya Kocar-Kacir, Kini Putin Dihadapkan Petisi Para Politikus: Resign Jadi Jalan Keluar yang Damai Kredit Foto: Reuters/TASS/Sergey Bobylev
Warta Ekonomi, Moskow -

Sebuah petisi yang menyerukan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengundurkan diri telah beredar di Rusia sejak Senin (12/9/2022). Puluhan politikus lokal mempertaruhkan hukuman penjara untuk menandatanganinya. 

Ksenia Torstrem, seorang wakil wali kota untuk distrik St. Petersburg mengatakan kepada France24, bahwa dia salah satu pembuat petisi terkemuka yang menuntut pengunduran diri Putin.

Baca Juga: Merongrong Putin buat Mundur, Dewan Rusia Nyatanya akan Bernasib Lebih Mengerikan

"Kami ingin menyatakan dukungan kami untuk teman-teman kami dari Smolninskoye (distrik St. Petersburg yang pejabat terpilihnya menyerukan agar Vladimir Putin diadili karena pengkhianatan)," kata Torstrem.

"Kami mengagumi keberanian mereka dan hanya bisa menyesali masalah yang mereka hadapi sekarang dengan polisi, yang menuduh mereka mendiskreditkan angkatan bersenjata," imbuhnya.

Petisi, yang awalnya ditandatangani oleh 19 pejabat lokal terpilih Rusia dan diterbitkan pada Senin (12/9/2022), berisi teks singkat yang mengutuk invasi Putin ke Ukraina dan menuntut agar dia mundur.

"Kami, para deputi kota Rusia, percaya bahwa tindakan Presiden Vladimir Putin merugikan masa depan negara dan warganya. Kami menuntut pengunduran diri Vladimir Putin dari jabatan presiden Federasi Rusia," bunyi petisi tersebut, yang telah beredar luas di jejaring sosial dan diangkat oleh beberapa media.

Ini adalah pertunjukan oposisi yang mencolok di negara di mana tindakan keras Kremlin terhadap perbedaan pendapat berarti Putin jarang direndahkan secara publik.

Sejak awal konflik, mereka yang mengkritik presiden berisiko dipenjara karena undang-undang yang mengkriminalisasi publikasi "berita palsu" tentang invasi Ukraina.

Namun konflik di Ukraina atau “operasi militer khusus” tidak berjalan sesuai rencana di Kremlin. Di tengah kemunduran Moskow dan keberhasilan serangan balik Ukraina, ada kritik yang meningkat di antara mereka yang menentang perang di Rusia.

Terlepas dari risiko berbicara, 84 tanda tangan lainnya telah ditambahkan ke petisi sejak diterbitkan, meskipun Torstrem masih mengkonfirmasi jumlahnya.

Sebelum petisi diluncurkan, beberapa pejabat terpilih dari distrik Sankt Peterburg --kota kelahiran Putin-- telah melangkah lebih jauh dengan mengirim surat ke Duma pada 7 September, menuntut agar presiden tidak hanya dicopot dari jabatannya tetapi juga diadili untuk "pengkhianatan".

Baca Juga: PAN Jateng Dukung Pencapresan Ganjar Pranowo, Pengamat: Bisa Dapat Tiket Capres KIB

Baca Juga: Pendukungnya Sebut Anies Kerap Diserang Isu Hoaks, Waketum Partai Garuda Sentil: Jika Tidak Mampu Menari, Jangan Salahkan Lantainya

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: