Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Zelenskyy Minta AS Damaikan Ukraina dan Rusia

Zelenskyy Minta AS Damaikan Ukraina dan Rusia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Ukraina telah menyampaikan sejumlah usulan kepada Amerika Serikat (AS) untuk mendorong berakhirnya perang dengan Rusia.

Menurut Zelenskyy, AS memiliki peran penting dalam memperkuat pertahanan Ukraina sekaligus memberikan tekanan kepada Rusia agar mengubah strategi perang dan mulai membuka jalan menuju penyelesaian konflik.

"Kami telah menyampaikan usulan kami kepada pihak Amerika," kata Zelenskyy dalam pidatonya pada Selasa malam.

Ia menyebut salah satu bentuk dukungan yang dibutuhkan Ukraina adalah penguatan pertahanan udara. Di sisi lain, tekanan diplomatik AS terhadap Moskow dinilai dapat mendorong Rusia beralih dari upaya memperpanjang perang menuju persiapan untuk mengakhirinya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika proses perdamaian yang dimediasi AS mengalami kebuntuan. Perang Rusia-Ukraina kini telah memasuki tahun kelima, sementara upaya untuk mempertemukan kedua pihak kembali menghadapi hambatan.

Dengan mediasi AS, Rusia dan Ukraina sebelumnya telah menggelar tiga putaran perundingan pada Januari dan Februari untuk mencari penyelesaian konflik. Namun, proses tersebut kemudian terhenti.

Moskow dan Kiev mengaitkan terhentinya perundingan dengan perubahan fokus AS setelah konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran pecah pada 28 Februari.

Di tengah kebuntuan diplomasi, Zelenskyy juga menyampaikan klaim mengenai rencana Rusia memperbesar jumlah pasukannya.

Berdasarkan laporan intelijen Ukraina yang disebut Zelenskyy, Moskow berencana merekrut tambahan pasukan setelah pemilu pada September. Ia memperkirakan Rusia dapat melakukan mobilisasi terhadap beberapa ratus ribu orang hingga akhir tahun, kemudian menambah jumlah yang sama pada tahun berikutnya.

Zelenskyy menilai langkah tersebut dapat digunakan Kremlin untuk membangun kesan bahwa masyarakat Rusia masih memberikan dukungan terhadap perang.

Mobilisasi yang disebutnya akan dilakukan di luar program perekrutan yang saat ini dijalankan Rusia melalui skema wajib militer dan kontrak.

Jika benar terjadi, langkah tersebut akan menjadi peningkatan signifikan dalam kapasitas personel Rusia di tengah perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Klaim mengenai mobilisasi baru Rusia bukan pertama kalinya disampaikan oleh pihak Ukraina. Sejak mobilisasi parsial pada 2022, Kiev secara berkala memperingatkan kemungkinan Moskow kembali mengerahkan gelombang mobilisasi dalam skala besar.

Pada 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui mobilisasi militer parsial yang menghasilkan perekrutan sekitar 300.000 personel ke dalam angkatan bersenjata Rusia.

Namun, pemerintah Rusia berulang kali membantah adanya rencana mobilisasi baru.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Maret menyatakan isu mobilisasi tidak masuk dalam agenda pemerintah Rusia. Pernyataan serupa disampaikan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev pada bulan lalu.

Baca Juga: Putin Disebut dapat Bantuan 50.000 Tentara Korea Utara

Medvedev bahkan menyebut kabar mengenai rencana mobilisasi sebagai provokasi palsu dan propaganda.

Dengan demikian, klaim mengenai pengerahan ratusan ribu personel tambahan tersebut hingga kini masih menjadi pernyataan dari pihak Ukraina yang dibantah oleh Rusia.

Di tengah perbedaan klaim tersebut, Zelenskyy tetap mendorong keterlibatan lebih besar AS, baik melalui bantuan pertahanan maupun tekanan diplomatik, sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali jalur menuju penyelesaian perang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat