Kredit Foto: Uatas
PT Plus Ultra Abadi (UATAS) membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra strategis, khususnya bank daerah, untuk memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha produktif yang belum sepenuhnya terlayani lembaga keuangan formal.
Direktur Pengembangan Bisnis UATAS Shintya Maulida mengatakan kolaborasi dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) memiliki nilai strategis karena masing-masing pihak memiliki kapabilitas yang dapat saling melengkapi.
Hal tersebut disampaikan Shintya dalam kegiatan Fintech Lending Days 2026 sesi Banking Partnership Forum: Strengthening Collaboration Between Pindar and Regional Banking Ecosystem di Bali, pekan lalu.
“Pada prinsipnya kami melihat partnership ini bukan sebagai kompetisi antar-subsektor, tetapi sebagai kombinasi capabilities untuk memberikan akses pembiayaan yang lebih tepat, efisien, dan sustainable,” katanya melalui siaran pers, Rabu (26/8/2026).
Menurut Shintya, sebagai platform Pindar, UATAS memiliki kemampuan dari sisi teknologi, data, dan proses pembiayaan berbasis digital yang memungkinkan proses dilakukan secara lebih efisien. Sementara itu, BPR dan BPD memiliki keunggulan berupa pemahaman terhadap karakteristik ekonomi lokal dan calon nasabah di wilayah masing-masing.
Kombinasi tersebut dinilai dapat membuat kolaborasi tidak sekadar menjadi tambahan kanal penyaluran pembiayaan. Kerja sama diarahkan untuk memanfaatkan keunggulan masing-masing pihak agar akses pembiayaan lebih tepat sasaran.
“Dari kami, akan dapat melihat peluang untuk memperluas akses kepada segmen underserved, khususnya masyarakat dan pelaku usaha produktif yang memiliki kebutuhan pembiayaan tetapi belum sepenuhnya terlayani oleh pembiayaan formal. Di saat yang sama, kolaborasi dengan perbankan daerah juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik customer dan kebutuhan pembiayaan di masing-masing wilayah,” ujarnya.
Shintya mengatakan kombinasi kapabilitas digital Pindar dengan pengetahuan lokal dan jaringan perbankan daerah dapat menciptakan nilai bersama. UATAS tidak hanya membidik pertumbuhan volume pembiayaan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan, terutama untuk mendukung sektor produktif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.
Namun, UATAS melihat terdapat sejumlah tantangan dalam membangun kerja sama lintas institusi. Hambatan tersebut tidak hanya berada pada aspek bisnis, tetapi juga penyelarasan proses, data, risk appetite, tata kelola, dan ekspektasi masing-masing pihak.
Setiap institusi memiliki kerangka kerja, sistem, dan pendekatan manajemen risiko yang berbeda. Karena itu, integrasi dalam satu skema kerja sama perlu dilakukan tanpa menurunkan standar tata kelola yang diterapkan masing-masing institusi.
“Salah satu hal yang menurut kami penting adalah alignment sejak tahap awal. Sebelum masuk ke implementasi, kedua pihak perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai target customer, skema pembiayaan, pembagian peran dan tanggung jawab, mekanisme data sharing, risk ownership, hingga bagaimana customer akan dilayani ketika terjadi suatu issue,” kata Shintya.
Baca Juga: Pembiayaan Mekar Tembus 133 Ribu UMKM, Mayoritas untuk Usaha Produktif
Baca Juga: Perempuan Kuasai 64,5% UMKM Indonesia, BI Minta Akses Keuangan Diperkuat
Dari sisi teknologi, interoperability juga menjadi faktor penting. Sistem yang berbeda perlu dapat saling berkomunikasi agar proses pembiayaan tidak menjadi lebih kompleks hanya karena melibatkan dua institusi dalam satu rangkaian layanan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, UATAS mendorong pola kerja sama secara bertahap. Kolaborasi dapat dimulai melalui pilot project dengan ruang lingkup yang jelas, kemudian dievaluasi berdasarkan kinerja, kualitas portofolio, proses operasional, dan pengalaman nasabah sebelum diperluas.
Dengan pendekatan tersebut, UATAS menilai kerja sama lintas institusi dapat dibangun tidak hanya berdasarkan peluang bisnis, tetapi juga kepercayaan, transparansi, dan manajemen risiko bersama.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: