Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.718 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.718 per Dolar AS Pagi Ini Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak tipis menguat pada awal perdagangan Selasa (1/9/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.718 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut membuat rupiah menguat tipis 0,02% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.722 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan perdagangan pekan ini rupiah akan bergerak secara fluktuatif pada rentang Rp17.720 - Rp17.780.

Ia mengatakan, proyeksi tersebut tidak lepas dari ketegangan konflik di Timur Tengah. Pasukan Amerika Serikat (AS) menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz, pada Minggu. Serangan tersebut menjadi aksi militer pertama yang diketahui dilakukan AS terhadap Iran sejak akhir Juli.

"Sebagai respons, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania. Media Iran melaporkan serangan tersebut pada Senin dengan mengutip pernyataan dari Garda Revolusi Iran," kata Ibrahim kepada wartawan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, kata Ibrhaim, negosiasi untuk mengakhiri konflik masih menemui jalan buntu. Para mediator terus berupaya membuka kembali Selat Hormuz, yang sebelum perang pecah pada akhir Februari menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak US$91 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.772, Subsidi Energi Jadi Ancaman Baru bagi Fiskal

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa Washington kemungkinan akan memberlakukan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap pekan.

"Kebijakan tersebut ditujukan untuk memutus sepenuhnya akses Republik Islam Iran terhadap sistem keuangan berbasis dolar AS," kata dia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: