Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PalmCo Perkuat Ketertelusuran CPO untuk Penuhi Tuntutan Pasar Global

PalmCo Perkuat Ketertelusuran CPO untuk Penuhi Tuntutan Pasar Global Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asal-usul bahan baku kini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perdagangan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), selain mutu dan kepastian pasokan.

Tuntutan tersebut membuat produsen sawit perlu mampu menunjukkan bagaimana komoditas diproduksi dan berasal dari rantai pasok yang memenuhi standar keberlanjutan.

PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo menyatakan tengah memperkuat aspek ketertelusuran produk sekaligus menjaga kinerja produksi CPO. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya persyaratan pasar, terutama dari pembeli yang memasok kebutuhan industri dan pasar ekspor.

Pada semester I-2026, PalmCo mencatat produksi CPO lebih dari 1,2 juta ton. Tingkat rendemen CPO pada periode yang sama mencapai 23,47 persen dengan rata-rata produktivitas sebesar 2,18 ton per hektare.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan konsistensi mutu dan pasokan menjadi faktor penting karena sebagian besar pelanggan perusahaan berasal dari segmen business to business (B2B).

“Pelanggan di sektor industri membutuhkan jaminan bahwa bahan baku yang mereka serap diproduksi melalui tata kelola agronomi dan pabrik yang efisien,” kata Jatmiko.

Menurut Jatmiko, capaian produksi dan rendemen pada paruh pertama 2026 menjadi salah satu indikator kinerja operasional perusahaan. Bagi industri pengguna CPO, stabilitas produksi diperlukan untuk menjaga kepastian volume dan spesifikasi bahan baku.

Namun, persyaratan pembelian CPO kini tidak hanya berkaitan dengan spesifikasi teknis. Pembeli, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan pasar ekspor, semakin memperhatikan informasi mengenai sumber bahan baku serta proses produksi komoditas tersebut.

Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV PalmCo Rury C Baskoro mengatakan transparansi dan ketertelusuran atau traceability semakin dibutuhkan dalam rantai pasok sawit.

“Transparansi dan ketertelusuran adalah hak pelanggan yang wajib kami penuhi,” ujar Rury.

Hingga semester I-2026, sebanyak 67 pabrik kelapa sawit (PKS) dan 124 kebun yang dikelola PalmCo telah memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

RSPO merupakan salah satu standar sertifikasi yang digunakan dalam industri sawit untuk menunjukkan penerapan prinsip produksi berkelanjutan. Standar tersebut mencakup sejumlah aspek, antara lain pengelolaan lingkungan, kondisi kerja, serta hubungan dengan masyarakat di sekitar area perkebunan.

Kebutuhan terhadap standar tersebut semakin relevan seiring meningkatnya penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) dalam rantai pasok global.

Rury mengatakan cakupan sertifikasi yang dimiliki perusahaan dapat menjadi salah satu dasar untuk memenuhi persyaratan keberlanjutan yang diterapkan pembeli.

Dengan tuntutan pasar yang semakin kompleks, persaingan produsen CPO tidak lagi hanya ditentukan oleh volume produksi. Mutu, kepastian pasokan, serta kemampuan menjelaskan asal-usul dan proses produksi menjadi faktor yang turut menentukan akses produsen terhadap pasar.

Bagi pembeli, informasi mengenai produk menjadi bagian dari kebutuhan rantai pasok. Karena itu, kemampuan produsen menjaga kualitas sekaligus menyediakan informasi yang dapat ditelusuri menjadi semakin penting dalam perdagangan CPO.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: