Pilih Gibran atau AHY Jadi Wapres? Pengamat Menerawang Bahaya Besar Bagi Masa Depan Gerindra
Kredit Foto: BPMI
Peta Pilpres 2029 mulai dibaca sejumlah kelompok politik meski kontestasinya masih tiga tahun lagi. Pengamat politik Hendri Satrio menilai salah satu persoalan penting nantinya adalah pilihan calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo Subianto jika kembali maju.
Hendri menilai keputusan tersebut tidak hanya berkaitan dengan figur pendamping presiden. Pilihan cawapres juga dapat berdampak pada kekuatan partai yang berada di belakang figur tersebut.
Ia mencontohkan kemungkinan Prabowo menggandeng Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Menurut Hendri, skenario itu berpotensi memperkuat posisi Demokrat sekaligus memengaruhi peta kekuatan Gerindra pada periode berikutnya.
"Misalnya nih, Prabowo ambil AHY jadi wapresnya. Artinya apa? Dia membesarkan Demokrat. Yang bisa jadi membahayakan Gerindra di 2034," kata Hendri, Selasa, 22 September 2026.
Sementara jika Prabowo kembali berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, Hendri melihat konsekuensi politik yang berbeda. Menurutnya, skenario tersebut dapat memberikan ruang penguatan bagi PSI atau kekuatan politik yang berada dalam bayang-bayang Golkar.
"Sama, kalau dia mengambil Gibran, bisa jadi membahayakan Gerindra juga. Dan membesarkan PSI atau yang dalam bayang-bayang Golkar," ujarnya.
Bagi Hendri, pilihan tersebut menunjukkan bahwa pasangan capres-cawapres dapat membawa konsekuensi lebih panjang terhadap konfigurasi partai. Karena itu, keputusan untuk 2029 tidak hanya menyangkut komposisi pemerintahan, tetapi juga perimbangan kekuatan politik setelahnya.
Di sisi lain, Hendri melihat mulai terbentuk perhatian terhadap dua kelompok politik yang ia sebut sebagai kubu Solo dan kubu Cikeas. Kubu Solo dikaitkan dengan Joko Widodo dan keluarganya serta PSI, sedangkan kubu Cikeas diasosiasikan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keluarganya, dan Partai Demokrat.
Baca Juga: Nasib Prabowo Ditentukan Putusan MK: Sekarang Orang Sudah Gerah, Elite Politik Lihat Kanan-Kiri...
Meski demikian, Hendri belum melihat kedua kelompok tersebut berada dalam pertarungan terbuka. Menurutnya, aktivitas politik saat ini lebih banyak berupa pembacaan kekuatan dan persiapan menghadapi kemungkinan yang muncul menuju 2029.
"Kalau kemudian ada dua kubu Solo dan Cikeas, ini sih menurut gue ya kubu biasa aja," kata Hendri.
Ia menggambarkan dinamika kedua kelompok sebagai proses saling mengamati sekaligus mempersiapkan mesin politik. "Saling mengintip, bersiap-siap, memanaskan mesin, sama-sama cari duit, ngumpulin duit kan," ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy