Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dedi Mulyadi Disebut Mustahil Lawan Prabowo di 2029

Dedi Mulyadi Disebut Mustahil Lawan Prabowo di 2029 Kredit Foto: Biro Adpim Setda Pemdaprov Jabar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat politik Adi Prayitno menilai mustahil bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk melawan Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

Pasalnya, status Dedi Mulyadi saat ini masih sebagai kader Partai Gerindra. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo.

"Kalau Dedi Mulyadi, saya selalu mengatakan bahwa memang tidak rasional dan tidak tepat kalau Dedi Mulyadi itu dipersepsikan akan maju, apalagi head-to-head dengan Pak Prabowo Subianto di 2029," ujar Adidalam kanal YouTube Adi Prayitno Official, dikutip Rabu (23/9).

"Mengingat per hari ini Dedi Mulyadi itu adalah kadernya Gerindra. Per hari ini Dedi Mulyadi selalu mengatakan terus dan tegak lurus bersama Gerindra dan Pak Prabowo Subianto," imbuhnya.

Menurut Adi, Dedi Mulyadi baru relevan dikaitkan dengan Pilpres 2029 apabila sudah tidak lagi bersama Partai Gerindra. Dalam kondisi tersebut, peluang dan kemungkinan untuk maju sebagai calon presiden bisa mulai dibicarakan.

"Baru kemudian bicara tentang peluang, kesempatan, dan sangat mungkin misalnya akan head-to-head dengan Pak Prabowo Subianto," ujarnya.

Ia menegaskan, selama Dedi Mulyadi masih berada di Gerindra dan mendukung penuh Prabowo, sangat sulit membayangkan dirinya maju sebagai pesaing pada Pilpres 2029.

"Sepanjang Dedi Mulyadi itu masih bersama dengan Gerindra, selalu bersama dengan Gerindra mendukung penuh Pak Prabowo Subianto, tak ada jalan ceritanya bagi Dedi Mulyadi untuk bisa maju di 2029," katanya.

Baca Juga: Elektabilitas Cuma 2%, Dedi Mulyadi Tak Butuh Gibran di Pilpres 2029

Adi menilai situasinya akan berbeda jika Dedi keluar dari Gerindra. Namun, ia juga membuka kemungkinan lain, yakni jika Dedi mendapat restu dari partai-partai koalisi pendukung Prabowo untuk menjadi calon wakil presiden.

"Kecuali ada takdir misalnya Pak KDM itu direstui dan disetujui oleh partai-partai koalisi pendukung Prabowo sebagai calon wakil presidennya, tapi bukan dalam konteks dihadap-hadapkan. Beda ceritanya kalau KDM keluar dari Gerindra, baru di situlah kemudian kita akan bicara bagaimana analisa dan peluang-peluangnya," tandasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya