Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

KAI Akui Whoosh Bebani Keuangan, Minta Pengalihan ke Kemenkeu Segera Dilakukan

KAI Akui Whoosh Bebani Keuangan, Minta Pengalihan ke Kemenkeu Segera Dilakukan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kembali menjadi sorotan setelah laba bersih perseroan anjlok hingga 74,12% pada semester I-2026. Di tengah tekanan tersebut, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengakui proyek Kereta Cepat Whoosh memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Bobby berharap proses pengalihan Whoosh dari KAI ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dapat segera dilakukan. Menurutnya, langkah tersebut diharapkan bisa membantu ruang gerak perusahaan, termasuk dalam memenuhi kebutuhan belanja modal.

"(Dampak rugi Whoosh) ya kan lihat saja laporan keuangan KAI kan sudah di-publish kan. Iya, mudah-mudahan ya, biar cepat," ungkap Bobby kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Tekanan terhadap keuangan KAI terlihat dari laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Hingga akhir Juni 2026, laba tersebut hanya mencapai Rp305,37 miliar, turun tajam dibandingkan Rp1,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi meski pendapatan KAI justru mengalami pertumbuhan. Pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp17,95 triliun pada semester I-2026, naik 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16,84 triliun.

Laba usaha KAI bahkan meningkat dari Rp3,70 triliun menjadi Rp4,66 triliun. Namun, peningkatan tersebut belum mampu mencegah laba bersih perseroan merosot signifikan.

Dalam kondisi tersebut, posisi Pilar Sinergi BUMN Indonesia juga menjadi perhatian. Entitas yang terkait dengan proyek Whoosh tersebut masih mencatatkan rugi hingga Rp5,13 triliun pada semester I-2026.

Total liabilitas Pilar Sinergi BUMN Indonesia juga tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan asetnya. Liabilitas mencapai Rp21,54 triliun, sedangkan total aset berada di angka Rp21,52 triliun.

Meski mengakui adanya dampak Whoosh terhadap laporan keuangan KAI, Bobby menegaskan kerugian proyek tersebut tidak seluruhnya berarti menjadi pengeluaran kas yang harus ditanggung perseroan. Karena itu, ia meminta agar kondisi tersebut tidak langsung dipahami sebagai seluruh kerugian yang menggerus kas KAI.

Baca Juga: Usai Pegawai Bea Cukai, Kejagung Periksa 2 Pegawai Kementerian ESDM dalam Kasus PT PMM

"Yang namanya serap rugi itu kan tidak selalu serap cash ruginya, cash-ya nggak sampai segitu. Aman," terangnya.

Di sisi lain, proses pengalihan Whoosh dari KAI ke Kemenkeu sampai saat ini belum memiliki skema yang jelas bagi perseroan. Bobby mengatakan KAI masih menunggu hasil kajian pemerintah terkait mekanisme pengalihan tersebut.

"Nggak tahu saya. Kami belum diinfo soal itu, sedang dikaji," pungkasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa KAI sendiri belum mengetahui secara pasti bagaimana pengelolaan Whoosh akan dilakukan apabila pengalihan benar-benar terealisasi. Pemerintah masih perlu menentukan skema yang dapat mengatur posisi aset, kewajiban, serta dampaknya terhadap keuangan masing-masing pihak.

Bagi KAI, percepatan proses tersebut menjadi penting karena perseroan tetap membutuhkan ruang untuk menjalankan agenda bisnis dan investasi lainnya. Apalagi, kinerja laba bersih perusahaan mengalami penurunan tajam meski pendapatan dan laba usaha masih mencatat pertumbuhan.

Kondisi itu membuat persoalan Whoosh tidak hanya berkaitan dengan operasional kereta cepat, tetapi juga menyentuh struktur keuangan perusahaan pelat merah yang terlibat di dalamnya. Pengakuan Bobby mengenai dampak signifikan proyek tersebut memperlihatkan bahwa beban finansial Whoosh masih menjadi perhatian bagi KAI.

Kini keputusan mengenai pengalihan Whoosh berada dalam pembahasan pemerintah. KAI berharap kajian Kemenkeu segera menghasilkan kejelasan agar perseroan dapat mengetahui posisi proyek tersebut sekaligus kembali memiliki ruang yang lebih leluasa untuk mengelola kebutuhan bisnis dan belanja modalnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama