Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak mixed-to-cautious pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Investor masih mencermati kenaikan imbal hasil US Treasury, harga minyak yang tinggi, serta perubahan ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta mengatakan, secara teknikal IHSG berpeluang mengalami possible reversal setelah terbentuk pola wave [iv]. Struktur bullish jangka panjang masih terjaga, didukung MA20 dan MA60 yang berada dalam kondisi positive crossover serta kenaikan volume. Namun, Stochastics K_D dan RSI masih memberikan sinyal negatif.
"Level support IHSG di 6.306 dan 6.254, sedangkan resistance berada di 6.429 dan 6.484," kata dia dalam riset hariannya.
Dia menyebut, tekanan pasar juga terlihat dari aksi investor asing. Net foreign sell pada perdagangan terakhir mencapai Rp468,26 miliar. Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell asing mencapai Rp102,50 triliun, sementara IHSG mencatat kinerja negatif 26,28%.
Dari global, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 3,40% ke 5,116%, level tertinggi sejak Juli 2007. Kenaikan yield terjadi di tengah data ekonomi AS yang kuat, tekanan inflasi, harga minyak sekitar US$100 per barel, serta pernyataan hawkish pejabat The Fed.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga meningkat. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan 28 Oktober 2026 naik menjadi 68,64%, dari sekitar 55% sehari sebelumnya.
"Kondisi ini memunculkan kembali kekhawatiran suku bunga tinggi bertahan lebih lama," jelas Nafan.
Pasar, bilang dia, juga menunggu pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Kemajuan negosiasi perdagangan dan tarif dapat meredakan kekhawatiran perang dagang, sementara kebuntuan berpotensi meningkatkan volatilitas.
Baca Juga: IHSG Tembus 6.300, Berpotensi Terkoreksi ke Level 6.200
Baca Juga: BEI Turunkan Batas Harga Jadi Rp1, Ini Deretan Saham Konglo di Bawah Gocap
Sementara itu, komunikasi antara pejabat AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum PBB membuka peluang penyelesaian diplomatik. Namun, perbedaan posisi kedua negara terkait operasi militer dan pembukaan Selat Hormuz membuat risiko geopolitik masih menjadi perhatian.
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% menjadi sentimen positif, karena memberikan kepastian arah kebijakan moneter. Rupiah juga menguat 0,28% ke Rp17.800 per dolar AS.
Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset menyarankan investor tetap selektif, terutama pada saham dengan fundamental solid, valuasi menarik, dan yang mulai menunjukkan sinyal pembalikan tren.
"Manajemen risiko juga perlu diterapkan secara disiplin," pungkas dia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: