Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pudarnya Pesona Jokowi, Partai Gajah Terancam Punah

Pudarnya Pesona Jokowi, Partai Gajah Terancam Punah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menanggapi hasil survei Poltracking Indonesia terbaru yang mencatat elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya 2,3 persen.

Menurut Jamil, bila dibandingkan dengan perolehan suara PSI pada Pileg 2024, elektabilitas partai berlogo gajah ini tampak turun. Pada Pileg 2024 PSI memperoleh 4.260.169 suara atau 2,81 persen suara nasional.

Bagi PSI, hasil survei itu tentu mengejutkan dan mengecewakan. Sebab, PSI berharap turunnya mantan presiden Jokowi ke daerah seperti Lampung dan Nusa Tenggara Tinur dapat mendongkrak elektoral PSI.

"Nyatanya elektabilitas PSI justru turun," tambahnya.

"Jadi, faktor safari politik Jokowi belum berdampak positif terhadap PSI. Penyebabnya tentu banyak," terangnya.

Salah satunya Jokowi tampaknya bukan lagi endorsement yang efektif untuk mendongkrak elektabilitas PSI. Sebab endorsement yang efektif haruslah sosok yang memiliki kredibilitas dan integritas figur yang kuat. 

Untuk itu, tokoh yang memberikan endorsement harus memiliki rekam jejak yang bersih, jujur, dan berintegritas.

Karena itu, Jamil menilai masyarakat akan mengabaikan rekomendasi politik dari figur yang terjerat kontroversi hukum atau moral. Sebaliknya, pengaruh publik figur akan kuat jika masyarakat menilai mereka memiliki kapasitas dan kapabilitas yang tepercaya di bidangnya.

"Masalahnya Jokowi di mata sebagian masyarakat Indonesia bukan lagi sosok yang kredibel dan berintegritas. Jokowi justru dinilai sosok kontroversial, terutama setelah penyelesaian kasus dugaan ijazah palsu berlarut-larut," pungkasnya.

Selain iti, Jokowi saat menjadi presiden juga dinilai melakukan pembungkaman kritik melalui pasal-pasal karet dalam UU ITE. Bahkan Jokowi juga dianggap melakukan pelemahan KPK melalui revisi UU KPK.

"Jadi, kepercayaan sebagian masyarakat terhadap Jokowi tampaknya memang sudah memudar. Hal ini kiranya yang membuat Jokowi tak efektif mengendoser PSI untuk mendongkrak elektabilitasnya," terangnya.

Selain itu, penyebab rendahnya elektoral PSI juga disebabkan figur petinggi PSI yang lemah. Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dan Ketua Harian PSI Ahmad Ali bukanlah figur yang memiliki akar rumput yang kuat dan kompetitif.

"Celakanya, hal itu juga tidak didukung figur yang kuat di daerah. Gaung petinggi PSI di provinsi dan kabupaten/kota praktis tak terdengar," terangnya.

Jadi, petinggi PSI mulai dari pusat hingga ke daerah praktis tak punya nilai jual politik. Hal ini kiranya membuat PSI semakin sulit mendongkrak elektabilitas partainya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat