Rupiah Kian Dekati Rp18.000, Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Sorotan
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan akhir pekan. Mata uang Garuda ditutup melemah 98 poin ke level Rp17.916 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 100 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.817 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan berikutnya. Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya risiko eksternal yang dihadapi perekonomian Indonesia. Ibrahim menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada September, setelah tiga bulan berturut-turut stabil, masih menghadapi tantangan dari perkembangan ekonomi global.
Risiko tersebut antara lain berasal dari meningkatnya imbal hasil global, pergerakan harga minyak yang fluktuatif, serta ketidakpastian geopolitik yang berpotensi kembali mendorong penguatan dolar AS.
Di sisi lain, pembuat kebijakan juga harus menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga yang masih menghadapi tekanan, serta sentimen pasar yang rentan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan sensitivitas rupiah terhadap penguatan dolar AS maupun arus keluar modal asing.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap mata uang kawasan perlu menjadi perhatian BI. Jika pelemahan rupiah berlangsung berkelanjutan, dampaknya dapat merembet ke inflasi melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi.
Risiko tersebut semakin besar apabila harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
"Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten," jelasnya.
Selain harga minyak, fenomena El Nino juga menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Gangguan cuaca berpotensi menghambat produksi dan pasokan pangan sehingga dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi, terutama apabila terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar dan kenaikan harga energi.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Sentimen Global dan Impor Valas, Begini Strategi BI
Baca Juga: BI Perkuat Jaga Rupiah di Tengah Ancaman Fed dan Ketegangan Timur Tengah
Meski demikian, kondisi fundamental ekonomi domestik masih menunjukkan daya tahan. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor utama perekonomian. Stimulus fiskal pemerintah, serta meningkatnya keyakinan dan ekspektasi pendapatan masyarakat, turut menjadi penyangga aktivitas ekonomi domestik.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: