Bukan Hanya Keterampilan, Penggunaan Alat yang Tepat Juga Menjadi Bagian dari Standar Kerja di Industri
Kredit Foto: Istimewa
Perkembangan teknologi ikut mengubah perangkat dan cara kerja di industri. Bagi mahasiswa vokasi, penguasaan teori saja tidak cukup; mereka juga perlu mengenal alat yang digunakan di dunia kerja agar mampu menerapkan keterampilan teknis secara tepat di lapangan.
Dalam konteks itu, Bosch Power Tools memperkenalkan tiga alat ukur kelistrikan terbaru di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), yakni GDM 600-15 Professional Digital Multimeter, GMC 600-15 Professional Clamp Meter, dan GFM 1000-15 Professional Fork Meter.
Ketiga alat ukur yang diperkenalkan Bosch selanjutnya akan digunakan dalam kegiatan praktik mahasiswa PNJ. Mahasiswa tidak hanya belajar membaca hasil pengukuran, tetapi juga memahami cara memilih alat, mengikuti prosedur, mengenali risiko, dan bekerja dengan aman.
Christoph Schmidt, Vice President Sales Bosch Power Tools ASEAN, mengatakan bahwa perkembangan teknologi perlu diikuti oleh kesiapan tenaga kerja. “Industri 4.0 mengubah cara perusahaan berproduksi, bekerja, dan menyelesaikan persoalan. Namun, teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan tenaga kerja dengan fondasi teknis yang kuat, mampu memahami teknologi, memecahkan masalah, serta terus belajar dan beradaptasi dengan kebutuhan industri,” ujar Christoph.
Perubahan keterampilan itu berlangsung cepat. World Economic Forum memperkirakan 39 persen keterampilan utama pekerja akan berubah atau tidak lagi relevan pada 2030. Kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri pun menjadi semakin penting.
Menyiapkan Lulusan Vokasi untuk Kebutuhan Dunia Kerja
Kolaborasi kampus dan industri memperkecil jarak antara pembelajaran dan dunia kerja. Mahasiswa perlu terbiasa dengan teknologi, prosedur, dan situasi kerja nyata sebelum memasuki industri.
Direktur Politeknik Negeri Jakarta, Dr. Syamsurizal, mengatakan kesiapan itu tak hanya bertumpu pada kemampuan teknis. Keterampilan nonteknis juga menentukan bagaimana lulusan beradaptasi ketika memasuki lingkungan profesional.
“Keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh hard skill, seperti pengetahuan teknis dan penguasaan alat, tetapi juga soft skill yang kuat. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya kerja perusahaan, dan disiplin menjalankan SOP menjadi bekal yang sama pentingnya,” ujar Syamsurizal.
Di Jurusan Teknik Elektro, tingkat serapan lulusan pada 2026 tercatat sekitar 70 persen. Secara keseluruhan, 41 persen lulusan PNJ pada wisuda September 2026 telah bekerja atau berwirausaha sebelum menerima ijazah.
Permintaan tenaga kerja di sektor industri juga masih besar. Kementerian Ketenagakerjaan memperkirakan 17 sektor industri membutuhkan tambahan rata-rata sekitar 750 ribu pekerja per tahun hingga 2029, mulai dari tenaga profesional dan manajer hingga teknisi dan operator.
Baca Juga: Dilindungi UU, Pelaku Industri Kreatif Diminta Hati - hati Gunakan Musik di Platform Digital
Baca Juga: Petrokimia Gresik Bawa Misi Industri Hijau dan Talenta Indonesia ke Forum PBB
Besarnya permintaan tersebut membuat kesiapan lulusan menjadi semakin penting. Kolaborasi Bosch Indonesia dan PNJ diarahkan untuk mempertemukan pembelajaran di kampus dengan praktik di industri. Mahasiswa mendapat akses terhadap teknologi yang digunakan di lapangan sekaligus kesempatan mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan adaptasi.
Tiga Alat Ukur untuk Tantangan Kerja yang Berbeda
Dalam pekerjaan kelistrikan, teknisi kerap berhadapan dengan ruang kerja terbatas, pencahayaan yang berubah, hingga instalasi yang rumit. Dalam kondisi seperti itu, alat ukur harus mampu memberikan hasil secara cepat dan akurat.
GMC 600-15 Professional Clamp Meter digunakan untuk pengukuran arus, sementara GFM 1000-15 Professional Fork Meter memiliki desain garpu terbuka yang membantu pengukuran pada panel dengan susunan kabel padat tanpa perlu memutus sirkuit.
Sementara itu, GDM 600-15 Professional Digital Multimeter digunakan untuk kebutuhan pengujian yang lebih beragam. Perangkat ini dilengkapi perlindungan IP65 dan telah melewati uji jatuh dari ketinggian dua meter. Ketiga perangkat dilengkapi layar untuk membantu pembacaan hasil pengukuran dalam berbagai kondisi pencahayaan.
Country Business Director Bosch Power Tools Indonesia, Edwin Irawan, mengatakan pemilihan peralatan yang sesuai menjadi bagian penting dari pekerjaan teknisi. “Teknisi listrik di lapangan sering kali menghadapi instalasi beragam dan tenggat waktu yang ketat. Mengandalkan peralatan yang aman dan sesuai standar keselamatan menjadi cara untuk menjaga efisiensi sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan,” ujar Edwin.
Keselamatan Kerja dalam Pekerjaan Kelistrikan
Dalam pekerjaan kelistrikan, ketepatan pengukuran tidak dapat dipisahkan dari keselamatan. International Labour Organization mencatat sekitar tiga juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit terkait pekerjaan. Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan juga mensyaratkan instalasi yang aman, andal, serta melindungi manusia dan lingkungan dari risiko kelistrikan.
Keselamatan juga bergantung pada cara alat digunakan. Teknisi perlu memilih perangkat yang sesuai, memeriksa kondisinya sebelum digunakan, memahami batas penggunaan, mengikuti prosedur kerja, serta memakai perlengkapan pelindung yang tepat.
Pakar K3 bidang listrik sekaligus dosen kelistrikan Politeknik Negeri Jakarta, A. Damar Aji, mengatakan kompetensi tenaga kelistrikan mencakup keterampilan, sikap kerja, dan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi yang berbeda. “Dari sisi pengguna, alat yang aman juga harus tangguh dan nyaman digunakan. Ketahanan terhadap debu, air, dan benturan serta desain yang ergonomis membantu mengurangi risiko kerja tanpa mengorbankan kualitas dan produktivitas,” kata Damar.
Hal itu menjadi semakin penting ketika teknisi harus bekerja pada sistem bertegangan atau instalasi yang tidak dapat dimatikan. Dalam kondisi seperti itu, Damar menambahkan bahwa ketepatan pengukuran harus berjalan bersama prosedur K3 dan penggunaan alat yang sesuai.
Di tengah perubahan teknologi yang cepat, pengalaman praktik dapat membantu memperkecil jarak antara kampus dan dunia kerja. Sebab, teknologi baru hanya akan berguna jika tenaga kerja mampu menggunakannya dengan tepat dan aman.
Bagi Bosch, pendekatan tersebut juga sejalan dengan semangat Beres, Bosch, yakni menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan pengguna dalam pekerjaan sehari-hari. Pada Bosch Power Tools, semangat itu diterjemahkan melalui pengembangan alat yang mengutamakan ketepatan, kemudahan penggunaan, ketahanan, dan keselamatan untuk mendukung pekerjaan yang lebih efisien.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: