Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Peluang UMKM masuk pasar global tidak selalu harus ditempuh dengan mengekspor produk secara langsung. Jalur lain terbuka melalui rantai pasok industri otomotif, ketika komponen buatan UMKM digunakan dalam kendaraan yang kemudian dipasarkan ke luar negeri.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengatakan, produk yang dibuat UMKM dan menjadi bagian dari kendaraan ekspor secara tidak langsung sudah masuk ke pasar global.
“Kalau produk itu nempel di mobil, dan mobilnya diekspor, ya pasti ikut,” kata Bagus saat ditemui di Tangerang, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, industri otomotif memiliki rantai pasok yang panjang sehingga peluang bagi UMKM tidak berhenti pada produksi kendaraan secara utuh. Komponen tertentu juga dapat dipasok untuk kendaraan yang diproduksi di dalam negeri dan dikirim ke berbagai negara.
Ekspor tersebut, lanjut Bagus, tidak hanya berupa kendaraan dalam kondisi utuh atau completely built-up (CBU). Industri otomotif juga mengekspor komponen tertentu hingga kendaraan dalam bentuk completely knocked down (CKD).
“Belum CKD. CKD-nya lebih banyak lagi. Kadang-kadang cuma kita ekspor steering column saja. Kita ekspor brake system-nya saja,” ujarnya.
Bagus menilai kondisi tersebut membuka ruang bagi UMKM untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok industri. Namun, peluang tersebut tidak cukup hanya dengan kemampuan membuat sebuah komponen.
Pelaku UMKM juga harus mampu memenuhi spesifikasi teknis, menjaga kualitas, serta meningkatkan kapasitas produksi agar bisa memenuhi kebutuhan industri dalam jumlah besar.
Perwakilan industri komponen otomotif yang hadir dalam kesempatan tersebut menjelaskan, salah satu tantangan UMKM adalah perbedaan antara membuat produk dalam jumlah kecil dan memproduksinya secara massal.
“UMKM bisa bikin satu, sepuluh bisa. Tapi bikin seratus belum tentu bisa. Dan kualitasnya harus kontinu,” ujarnya.
Karena itu, pendampingan terhadap UMKM tidak hanya menyangkut cara membuat produk. Pelaku usaha juga perlu memahami spesifikasi, standar kualitas, proses produksi hingga manajemen produksi.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah komponen berbahan aluminium. Secara tampilan, produk tersebut dapat terlihat mulus, tetapi setelah dipotong ditemukan pori atau rongga di bagian dalam sehingga tidak memenuhi standar yang dibutuhkan industri.
Kondisi seperti itu menjadi salah satu alasan Kementerian UMKM mendorong terbentuknya ekosistem usaha berbasis klaster, termasuk klaster industri komponen otomotif.
Baca Juga: KDMP Lengkong Bangun Rantai Pasok Digital, Hubungkan Produk UMKM dengan Pasar
Baca Juga: Dari Rantai Pasok hingga IPO, Kementerian UMKM Siapkan Ekosistem Baru
Bagus mengatakan pihaknya juga telah bekerja sama dengan Astra untuk memperluas pendampingan kepada UMKM yang berminat masuk ke sektor industri. Model tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri besar dengan kemampuan pelaku UMKM di sisi pemasok.
Menurut dia, pendekatan tersebut penting agar UMKM tidak hanya menjadi pelaku usaha yang menjual produk akhir kepada konsumen, tetapi juga bisa mengambil bagian dalam rantai pasok manufaktur.
Peluang tersebut juga dinilai masih terbuka di tengah pergeseran industri otomotif menuju kendaraan elektrifikasi. Perubahan teknologi kendaraan memang mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah komponen mesin konvensional, tetapi tidak seluruh komponen kendaraan ikut hilang.
Komponen seperti kursi, ban, interior, material karet, fiber hingga sejumlah bagian bodi tetap dibutuhkan pada kendaraan listrik.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan