Kredit Foto: Harita
Hilirisasi nikel telah mengubah posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Dari negara pemasok bijih, Indonesia kini menjadi salah satu pusat pengolahan nikel untuk kebutuhan industri stainless steel hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.
Namun, ekspansi industri tersebut membawa tantangan baru. Di balik pertumbuhan investasi dan kapasitas produksi, kebutuhan energi industri nikel meningkat pesat dan masih banyak bergantung pada pembangkit listrik captive berbasis batu bara.
Laporan lembaga kajian energi Ember memperkirakan pembangkit listrik captive di Indonesia memasok lebih dari 161 terawatt hour (TWh) listrik pada 2025. Angka tersebut sekitar 1,7 kali lipat dibandingkan penjualan listrik PLN kepada pelanggan industri pada periode yang sama.
Dari total pasokan tersebut, sekitar 83% diperkirakan berasal dari batu bara. Ember memperkirakan pembangkit captive berbasis fosil menghasilkan sekitar 135 juta ton karbon dioksida pada 2025.
Besarnya emisi tersebut menjadikan sektor captive sebagai salah satu faktor penting dalam penghitungan jejak karbon industri dan upaya dekarbonisasi Indonesia.
Nikel Jadi Pengguna Captive Coal Terbesar
Sektor pengolahan nikel menjadi pengguna listrik captive terbesar di Indonesia.
Ember memperkirakan industri nikel mengonsumsi lebih dari 81 TWh listrik captive pada 2025. Lebih dari 94% kebutuhan listrik sektor tersebut diperkirakan masih dipenuhi pembangkit batu bara captive.
Besarnya kebutuhan energi tersebut tidak terlepas dari ekspansi fasilitas pengolahan mineral, mulai dari smelter untuk produksi stainless steel hingga fasilitas pemrosesan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Selain nikel, sektor pulp dan kertas diperkirakan menyerap sekitar 22 TWh listrik captive, sementara kawasan industri multisektor sekitar 13,5 TWh.
Skala konsumsi energi tersebut menunjukkan bahwa persoalan emisi hilirisasi tidak hanya berada pada aktivitas pertambangan, tetapi juga pada sumber listrik yang menopang proses peleburan dan pemurnian mineral.
Weda Bay dan Kapasitas Energi Industri Besar
Salah satu kawasan yang mencerminkan skala industri nikel Indonesia adalah Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Pemetaan Global Energy Monitor mencatat kapasitas pembangkit listrik captive yang beroperasi di kawasan IWIP mencapai sekitar 4.540 megawatt (MW), termasuk Weda Bay Power Station dan sejumlah unit pembangkit lainnya.
Kawasan IWIP berada dalam ekosistem industri yang berkaitan dengan PT Weda Bay Nickel (WBN), perusahaan pertambangan nikel yang memasok bijih untuk sejumlah fasilitas pengolahan.
Berdasarkan informasi tata kelola perusahaan, struktur kepemilikan WBN terdiri atas Tsingshan sebesar 51,3%, Eramet 37,8%, dan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam sebesar 10%.
WBN menyatakan memiliki komitmen terhadap standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), serta memasok bijih nikel kepada fasilitas pengolahan yang menghasilkan ferroalloy, matte, maupun produk turunan nikel.
Baca Juga: Ledakan Hilirisasi Nikel Picu Lonjakan PLTU Captive Batu Bara RI
Baca Juga: UNTR Perkuat Bisnis Emas dan Nikel di Tengah Tekanan Batu Bara
Namun, kapasitas pembangkit captive dalam suatu kawasan industri tidak secara otomatis dapat disamakan sebagai emisi langsung perusahaan tambang tertentu. Pembangkit listrik, fasilitas pengolahan, dan perusahaan pertambangan dapat berada dalam entitas berbeda dalam satu rantai industri.
Karena itu, data mengenai sumber energi, konsumsi listrik, serta distribusi emisi menjadi penting untuk melihat intensitas karbon setiap produk secara lebih akurat.
Obi dan Harita: Ketergantungan Energi dalam Industri Terintegrasi
Selain Weda Bay, Pulau Obi di Maluku Utara juga menjadi salah satu pusat pengembangan industri nikel Indonesia.
Basis data Global Energy Monitor mencatat PT Halmahera Persada Lygend Nickel Smelter power station di Kawasi, Obi Selatan, memiliki kapasitas operasi sedikitnya 1.630 MW.
Harita Nickel melalui ekosistem industrinya mengembangkan fasilitas pengolahan nikel, termasuk teknologi high-pressure acid leaching (HPAL) untuk menghasilkan produk antara bahan baku baterai.
Perusahaan menyatakan menerapkan teknologi waste-heat recovery pada fasilitas HPAL sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi energi dengan memanfaatkan kembali panas sisa proses.
Meski teknologi efisiensi dapat mengurangi konsumsi energi, sumber listrik yang digunakan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan intensitas karbon produk nikel.
Bagi pasar global, jejak karbon tidak hanya dilihat dari aktivitas tambang, tetapi juga dari energi yang digunakan sepanjang rantai produksi.
Data Captive Jadi Tantangan Dekarbonisasi
Pertumbuhan cepat pembangkit captive membuat kualitas data menjadi faktor penting dalam pengawasan emisi industri.
Ember mencatat terdapat perbedaan estimasi dengan data nasional mengenai kapasitas dan komposisi pembangkit captive. Perbedaan tersebut salah satunya berkaitan dengan pendekatan analisis.
HEESI menggunakan pendekatan top-down dalam menggambarkan sistem energi nasional, sementara Ember menggunakan pendekatan bottom-up dengan menelusuri aktivitas industri dan kebutuhan listrik sektor pengguna.
"Pembangkit listrik captive memainkan peran penting dalam pembangunan industri Indonesia. Analisis kami menawarkan perspektif bottom-up untuk melengkapi data HEESI dan memperkuat kualitas data agar upaya dekarbonisasi Indonesia dapat dilacak dengan lebih baik," kata Giang Vu, analis data di Ember.
Menurut Ember, data yang lebih transparan mengenai kapasitas pembangkit, bahan bakar, jam operasi, konsumsi listrik, dan emisi diperlukan agar strategi pengurangan karbon dapat dilakukan secara lebih terukur.
Karbon Mulai Menjadi Faktor Daya Saing
Ketergantungan industri terhadap listrik captive berbasis batu bara menjadi tantangan ketika pasar internasional mulai memasukkan faktor karbon dalam perdagangan.
Produk berbasis mineral seperti nikel kini tidak hanya dinilai dari kapasitas produksi dan nilai tambah ekonomi, tetapi juga dari sumber energi yang digunakan dalam proses pengolahan.
Mekanisme seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa menunjukkan bahwa intensitas emisi dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi akses pasar produk industri.
Katherine Hasan, analis di Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), menilai pertumbuhan PLTU captive tidak dapat dipisahkan dari ekspansi hilirisasi logam Indonesia.
Baca Juga: UNTR Perkuat Bisnis Emas dan Nikel di Tengah Tekanan Batu Bara
"PLTU captive tumbuh sangat pesat didorong oleh ledakan hilirisasi logam di Indonesia. Cara kapasitas ini diarahkan akan menentukan bukan hanya laju transisi energi Indonesia, tetapi juga daya saing globalnya," kata Katherine.
Menurut CREA, penyelarasan antara pelaporan energi nasional dengan analisis berbasis aktivitas industri diperlukan untuk membangun dasar pengukuran emisi yang lebih transparan.
"Menjembatani pelaporan nasional yang bersifat top-down dalam HEESI dengan pendekatan bottom-up akan membangun baseline transparan yang menjadi syarat penting bagi dekarbonisasi yang kredibel," ujar Katherine.
Pertumbuhan Ekonomi Morowali dan Tantangan Kesejahteraan
Di tengah ekspansi industri nikel, wilayah penghasil juga mengalami perubahan ekonomi besar.
Berdasarkan data BPS yang diolah Center of Reform on Economics (CORE), Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan PDRB sebesar 8,66% pada 2024. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Sulawesi.
Kabupaten Morowali dan Morowali Utara menjadi contoh daerah yang mengalami perubahan struktur ekonomi akibat investasi hilirisasi nikel. Dari sebelumnya bertumpu pada sektor agraris, maritim, dan pertambangan, ekonomi kedua wilayah tersebut semakin bergeser menuju sektor manufaktur.
Namun, CORE mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara langsung.

Executive Director CORE Mohammad Faisal mengatakan PDRB menggambarkan aktivitas ekonomi secara agregat, tetapi tidak selalu menunjukkan peningkatan pendapatan masyarakat secara proporsional.
"Tapi kalau melihat seberapa besar kenaikan atas pendapatan masyarakat per kapita itu segini saja. Kita bisa melihat, Morowali hanya 2% dan Morowali Utara itu juga hampir 2%," kata Faisal dalam MediaMIND di Jakarta.
Data CORE menunjukkan PDRB per kapita Morowali tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 23,2% sepanjang 2014–2024. Namun, pengeluaran per kapita masyarakat hanya tumbuh sekitar 2% pada periode yang sama.
Di Morowali Utara, PDRB per kapita tumbuh dengan CAGR sekitar 21,8%, sementara pengeluaran per kapita masyarakat hanya meningkat sekitar 1,9%.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait:
