Tren Lari Marathon: Guru Besar UGM Peringatkan Bahaya Cedera Otot dan Jantung Tanpa Persiapan
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Tren mengikuti ajang lari jarak jauh seperti 10K, half marathon, hingga full marathon tanpa persiapan fisik yang matang berisiko fatal bagi tubuh.
Guru Besar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, mengingatkan bahwa memaksakan diri berlari dengan intensitas tinggi tanpa adaptasi berisiko memicu kerusakan jaringan otot dan memberikan beban ekstrem pada jantung.
Menurut Prof. Denny, kesalahan umum yang kerap terjadi di kalangan pemula adalah langsung mengambil beban lari jarak jauh meski sebelumnya tidak terbiasa berolahraga.
"Tidak pernah olahraga, ikut tren lari 10 kilo atau maraton. Dia belum pernah menyiapkan sejak awal, yang terjadi adalah kerusakan-kerusakan pada ototnya," tegas Denny, Kamis (24/9/2026).
Agar sistem tubuh tidak mengalami kelelahan kronis (overtraining), pelari non-atlet wajib melakukan persiapan bertahap sebelum berpartisipasi dalam ajang lari. Prof. Denny merekomendasikan panduan latihan berikut:
Intensitas Tinggi Terbatas: Batasi latihan intensitas tinggi maksimal dua kali seminggu menjelang hari race.
Aerobik Rutin: Lakukan latihan tiga hingga lima kali seminggu dengan durasi 30–45 menit, yang dapat diperpanjang secara bertahap hingga 60 menit.
Jaga Intensitas Sedang: Olahraga harian sebaiknya dipertahankan pada intensitas sedang. Indikator utamanya adalah pelari masih mampu berbicara menggunakan kalimat utuh tanpa terengah-engah.
Lebih lanjut, Denny menegaskan bahwa rutinitas olahraga yang terukur tidak hanya krusial untuk menghadapi kompetisi, tetapi juga menjadi investasi kesehatan jangka panjang. Kapasitas fisik manusia mencapai puncaknya pada usia 20–30 tahun.
Membangun kebiasaan olahraga yang tepat sejak dini terbukti efektif memperlambat penurunan fungsi organ dan menjaga kemandirian fisik di masa tua.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: