Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kapolri Serukan Persatuan, Peran Ulama di Tengah Polarisasi jadi Kunci

Kapolri Serukan Persatuan, Peran Ulama di Tengah Polarisasi jadi Kunci Kredit Foto: Tim Komunikasi dan Media AIS Forum 2023
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam acara “Ngaji Kebangsaan” bersama K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026).

Dalam sambutannya di hadapan personel Polri dan para santri, Listyo Sigit menekankan pentingnya hubungan antara ulama dan umara dalam kehidupan berbangsa. Menurut dia, keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kehidupan masyarakat.

Ulama dipandang sebagai lentera dan kompas moral yang memberikan arah spiritual, nasihat, serta landasan etika. Sementara Polri sebagai aparat negara memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan perlindungan bagi masyarakat.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian dari analis politik senior sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens. Dalam rilisnya tertanggal 27 September 2026, Boni menyebut seruan Kapolri tersebut sebagai pesan moral di tengah tantangan yang dihadapi masyarakat.

Menurut Boni, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan dinamika di dalam negeri, tetapi juga situasi global. Perang dan konflik geopolitik disebut berdampak terhadap rantai pasok global dan memicu ketidakstabilan ekonomi.

Di dalam negeri, kata Boni, berbagai kepentingan juga berhadapan di arena politik, ekonomi, maupun ruang digital.

“Dunia berada dalam tantangan yang kompleks, terutama akibat perang yang mempengaruhi rantai pasok global. Di dalam negeri, kita melihat bermacam kepentingan sedang berkontestasi. Maka, seruan moral Kapolri itu semacam lonceng moral yang membangun seluruh elemen masyarakat dari tidur apatis agar bersama-sama aktif merawat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah pluralisme identitas dan kepentingan,” ujar Boni.

Boni juga menyoroti dinamika di ruang digital. Menurut dia, polarisasi opini, penyebaran disinformasi, dan pertarungan kepentingan politik di dunia maya dapat menciptakan fragmentasi sosial yang berpengaruh terhadap persatuan bangsa.

Dalam konteks tersebut, Boni menilai keberadaan ulama memiliki peran sebagai kekuatan moral yang dapat mendukung upaya aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Selain itu, Boni menekankan pentingnya kesalehan sosial sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Ia mengatakan kesalehan sosial tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga tercermin melalui nilai kemanusiaan, keadilan, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.

“Kesalehan sosial bukan sekadar urusan ibadah pribadi, melainkan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan solidaritas yang hidup dalam interaksi sosial sehari-hari,” tutur Boni.

Baca Juga: Polri Kerahkan Helikopter Bell 412 Evakuasi Korban di Papua Tengah

Menurut Boni, ketika kesalehan sosial tumbuh di masyarakat, masyarakat memiliki fondasi moral yang lebih kuat dalam menghadapi provokasi, mencegah konflik, serta memilih jalur damai ketika menghadapi perbedaan.

Ia kemudian menilai sinergi antara Polri dan ulama seperti yang ditunjukkan melalui kegiatan “Ngaji Kebangsaan” di Rembang perlu terus diperkuat.

“Persatuan dan kesatuan bukan slogan kosong melainkan pilihan aktif yang harus diperjuangkan setiap hari oleh setiap warga negara dan semua elemen bangsa,” tegas Boni.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: