Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gubernur BI: Setiap Kenaikan Suku Bunga 25 Bps, Ekonomi Akan Turun 0,1 Persen

Gubernur BI: Setiap Kenaikan Suku Bunga 25 Bps, Ekonomi Akan Turun 0,1 Persen Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan konsekuensi yang harus ditanggung perekonomian jika suku bunga acuan kembali dinaikkan. 

Ia menyampaikan berdasarkan asesmen BI, setiap kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 poin persentase.

“Kalau BI-Rate naik 25 basis point, maka pertumbuhan ekonomi akan turun 0,1%,” kata Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

Sebagai gambaran, jika pertumbuhan ekonomi berada di level 5,4%, kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps berpotensi membuat pertumbuhan turun menjadi sekitar 5,3%, berdasarkan perhitungan BI.

Destry mengatakan dampak tersebut menjadi salah satu pertimbangan BI dalam menentukan kebijakan moneter. Bank sentral tidak hanya menghitung dampak kenaikan suku bunga terhadap stabilitas, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

“Karena kita juga melakukan assessment, kalau BI-Rate naik 25 basis point, pertumbuhan ekonomi akan turun sekitar 0,1%,” ujarnya.

Menurut Destry, kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih membutuhkan ruang untuk tumbuh. BI melihat output gap masih negatif, yang menunjukkan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya berada pada kapasitas potensialnya.

“Kalau dia masih negatif berarti masih ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi tanpa mengakibatkan inflasi,” jelasnya.

Di sisi lain, BI tetap menempatkan stabilitas sebagai jangkar kebijakan. Destry menyebut inflasi inti masih berada di sekitar 2%, sementara inflasi umum mencapai 3,19%.

Kondisi tersebut membuat BI memilih tidak hanya mengandalkan suku bunga sebagai instrumen kebijakan. Bank sentral juga menggunakan instrumen lain yang lebih terarah untuk merespons tekanan eksternal sekaligus menjaga aliran modal.

Salah satunya melalui insentif biaya hedging bagi aliran dana masuk. Destry menyebut kebijakan yang baru berjalan sekitar satu bulan itu telah mendorong inflow sekitar US$6 miliar melalui instrumen terkait.

Baca Juga: Bos BI Bongkar Alasan Tahan BI Rate di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi

Baca Juga: Rupiah Ditutup Tertekan, Pasar Nantikan Keputusan BI Rate dan Cermati Risiko Fiskal

“Kalau kita bermain target, seperti yang kita lakukan untuk insentif itu, dampaknya hanya kepada inflow yang akan masuk,” katanya.

Destry menegaskan, pilihan tersebut merupakan bagian dari upaya BI mencari kombinasi kebijakan yang dapat menjaga stabilitas tanpa memberikan tekanan yang terlalu luas terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Karena kalau naikin BI-Rate itu dampaknya langsung kena semuanya,” pungkas Destry.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra