Bos SMRC Sebut Golkar Akan Mengusung Dedi Mulyadi di Pilpres, Bukan Keturunan Jokowi
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026 membawa angin perubahan drastis dalam peta wacana politik nasional menuju Pemilihan Presiden 2029.
Seiring dengan kekuatan elektoral Presiden Prabowo yang dinilai tidak lagi tunggal dan dominan, pergerakan serta persaingan di tingkat elite politik kini semakin terbuka lebar.
Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta, Prof. Saiful Mujani, menilai bahwa arah pertarungan pada Pilpres 2029 akan sangat bergantung pada kepastian aturan main, khususnya ambang batas (threshold) pencalonan presiden.
Jika regulasi yang tengah digodok DPR nantinya patuh pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang bersemangat melonggarkan atau mengurangi pembatasan, panggung Pilpres 2029 dipastikan bakal diisi oleh kontestasi yang jauh lebih dinamis dan kompetitif.
Menurut Saiful Mujani, peta kekuatan pertarungan pada 2029 akan ditentukan oleh tiga variabel utama, yakni:
1. Dinamika hubungan antarelite partai politik.
2. Kondisi kekuatan elektoral masing-masing partai.
3. Kekuatan elektoral figur tokoh potensial calon presiden.
Berdasarkan kalkulasi kekuatan partai saat ini, kemunculan tokoh-tokoh potensial hasil temuan survei, serta rekam jejak relasi antarelite, SMRC memprediksi akan terbentuk sedikitnya 5 hingga 6 poros kekuatan penentu dalam kontestasi mendatang.
Sejumlah poros tersebut di antaranya Partai Gerindra yang diprediksi tetap akan mendorong Prabowo Subianto, Partai Golkar yang berpeluang kuat mengusung kembali Kang Dedi Mulyadi (KDM), serta PDI Perjuangan yang memiliki opsi figur seperti Ganjar Pranowo atau Pramono Anung.
Selain itu, Partai NasDem berpotensi kembali bersama Anies Baswedan, Partai Demokrat mengandalkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hingga PSI yang lekat dengan figur Gibran Rakabuming Raka dan Joko Widodo.
Salah satu sorotan tajam dalam bedah politik tersebut berkaitan dengan karakteristik demografi pemilih KDM yang dinilai memiliki daya tarik unik dibanding tokoh lainnya.
"Ini yang penting: KDM cenderung menarik dan menyatukan pemilih partai, dan Prabowo cenderung memecah," ungkap Saiful, menggarisbawahi bagaimana basis dukungan KDM mampu melintasi batas-batas sekat partai politik secara lebih cair.
Dengan konstelasi yang masih terus bergerak dinamis, dinamika menuju 2029 dipastikan akan menjadi medan tarung yang menarik bagi konsolidasi kekuatan partai maupun figur calon pemimpin nasional.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat