Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Polemik 'Ijazah' Gibran Disebut Buka Jalan Keluar untuk Tekanan Pemerintahan Prabowo

Polemik 'Ijazah' Gibran Disebut Buka Jalan Keluar untuk Tekanan Pemerintahan Prabowo Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai menghadapi tekanan berlapis pada masa awal kepemimpinannya. Selain tantangan ekonomi dan ruang fiskal yang terbatas, isu legitimasi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga disebut dapat menjadi beban politik.

Mantan Gubernur Lemhannas, Andi Widjajanto, membahas kemungkinan exit strategy atau jalan keluar dari situasi tersebut dalam perbincangan di kanal YouTube Mahfud MD Official.

Menurut Andi, tekanan terhadap pemerintahan sebenarnya sudah cukup berat meski tanpa adanya polemik hukum terkait pencalonan Gibran. Ia menyinggung kondisi ekonomi dan berbagai tekanan yang menurutnya membuat ruang gerak pemerintah menjadi terbatas.

"Ini tanpa itu pun pemerintah ini sudah berada di koridor yang tipis. Kalau untuk saya sudah kayak berjalan di kaca tipis, harus hati-hati dalam melangkahnya," papar Andi.

Andi menilai, apabila isu legitimasi Gibran terus bergulir hingga Pemilu 2029, persoalan tersebut berpotensi memengaruhi tingkat penerimaan politik terhadap pemerintahan dan menjadi beban elektoral.

Andi Sebut Kemungkinan Gibran Mundur

Saat membahas jalan keluar dari tekanan tersebut, Andi tidak melihat Prabowo akan secara proaktif meminta Gibran mundur. Ia justru menyebut kemungkinan inisiatif tersebut berasal dari kubu Joko Widodo.

Menurut Andi, situasi politik yang penuh tekanan dapat menjadi momentum bagi Jokowi untuk melakukan konsolidasi kekuatan politik menuju 2029.

"Saya berpikir sebaliknya, bahwa Pak Jokowi ngelihat ini adalah momentum yang paling pas bagi Mas Gibran untuk mundur," ungkap Andi.

Baca Juga: Salah Menebak Jokowi, Begini Andi Widjajanto Ungkap Skenario Awal Gibran pada Pemilu 2024

Andi kemudian menggambarkan kemungkinan Gibran mengambil keputusan mundur dengan alasan untuk mengurangi beban terhadap pemerintahan Prabowo. Menurut dia, langkah tersebut justru berpotensi mendapatkan simpati publik apabila disampaikan dengan narasi yang tepat.

"Kalau seandainya Gibran berani kesatria lalu mengatakan, 'Saya mundur sajalah supaya Presiden tidak terbebani legitimasi saya', itu simpati akan ngalir ke Gibran," pungkas Andi.

Analisis tersebut menempatkan pengunduran diri Gibran sebagai salah satu skenario yang menurut Andi dapat mengubah dinamika politik pemerintahan. Namun, dalam uraian tersebut, langkah tersebut masih merupakan analisis dan kemungkinan politik, bukan keputusan yang telah diambil Gibran.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat