Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jokowi Masuk PSI, Pengamat Ungkap Efeknya Jika Gantikan Kaesang Jadi Ketum

Jokowi Masuk PSI, Pengamat Ungkap Efeknya Jika Gantikan Kaesang Jadi Ketum Kredit Foto: Baznas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Masuknya Joko Widodo sebagai kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bisa membawa perubahan terhadap kekuatan elektoral partai berlambang gajah tersebut. Bahkan, pengamat politik menilai pengaruh Jokowi berpotensi lebih besar jika mantan presiden itu berada di posisi yang memimpin langsung PSI.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan status Jokowi sebagai kader saja sudah dapat menjadi modal bagi PSI untuk meningkatkan keterpilihan. Namun, efek tersebut dinilai bisa lebih signifikan apabila Jokowi suatu saat mengambil posisi sebagai ketua umum partai.

"Kepastian Jokowi sebagai kader PSI, dan jika memungkinkan dia menjadi Ketua Umum PSI, peluang peningkatan elektabilitas bisa lebih signifikan," kata Dedi melalui layanan pesan, Minggu (27/9).

Menurut Dedi, Jokowi memiliki basis loyalis yang cukup kuat. Kondisi tersebut membuat kehadiran mantan presiden itu dinilai dapat memberikan tambahan daya tarik bagi PSI, terutama ketika partai mulai mempersiapkan diri menghadapi pertarungan politik berikutnya.

"Harus diakui, Jokowi miliki basis loyalis yang cukup kuat, bahkan bisa dikatakan Jokowi itu tokoh individu nonparpol paling kuat," lanjut Dedi.

Dedi juga melihat posisi Jokowi sebagai pemimpin PSI akan menghasilkan efek yang berbeda dibandingkan sekadar menjadi kader. Ia menilai faktor psikologis dari kepemimpinan langsung dapat memperbesar daya pengaruh Jokowi terhadap partai.

"Ya, secara psikologis akan berbeda jika Jokowi sendiri yang memimpin PSI. Daya pengaruh Jokowi juga optimis membawa PSI masuk parlemen," kata Dedi.

Pernyataan tersebut muncul setelah Jokowi secara terbuka memastikan dirinya telah menjadi bagian dari PSI. Jokowi menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI di hadapan kader PSI Kota Bandung pada Sabtu (26/9/2026) dan menyebut dirinya telah menjadi anggota sejak 14 Oktober 2025.

Meski demikian, posisi yang disiapkan PSI untuk Jokowi saat ini bukan ketua umum. PSI memastikan Jokowi akan dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina pada November 2026, sedangkan posisi ketua umum masih dipegang oleh putranya, Kaesang Pangarep.

Artinya, pernyataan Dedi mengenai Jokowi sebagai ketua umum masih berupa kemungkinan atau skenario politik. Belum ada keputusan resmi PSI yang menyatakan Jokowi akan menggantikan Kaesang sebagai ketua umum.

Baca Juga: Bukan Jokowi atau Gibran, Anies dan Ganjar Justru Bantu Prabowo Menang Pilpres 2024

Di sisi lain, Dedi menilai PSI selama ini belum memiliki kekuatan tokoh yang dapat memberikan daya ungkit besar bagi elektabilitas partai. Karena itu, kehadiran Jokowi disebut dapat mengisi kebutuhan tersebut dengan basis dukungan yang dimilikinya.

"Dia mengatakan PSI sejauh ini tidak punya kekuatan tokoh. Kehadiran Jokowi bisa meningkatkan signifikan keterpilihan partai," ujar Dedi.

PSI sendiri tengah mempersiapkan struktur partai untuk menghadapi Pemilu 2029. Dalam agenda konsolidasi di Bandung, Jokowi juga mendorong kader PSI agar tidak hanya membangun struktur organisasi, tetapi aktif bekerja di tengah masyarakat dan membangun jaringan hingga tingkat komunitas.

Dengan posisi Jokowi yang akan masuk ke jajaran Dewan Pembina, pengaruh politiknya terhadap PSI kini menjadi salah satu perhatian menjelang 2029. Namun, seberapa besar kehadiran Jokowi akan berdampak terhadap keterpilihan PSI tetap bergantung pada perkembangan dukungan politik dan kerja partai ke depan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama