Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Berdasarkan data BEI, pada pukul 09.00 WIB IHSG berada di level 6.084, turun 69 poin atau 1,1% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat berada di level 6.118,81. Namun, pergerakannya langsung tertekan dengan rentang yang cukup sempit, yakni di level tertinggi 6.125,53 dan terendah 6.116,25.
Aktivitas transaksi pada awal perdagangan tercatat sebanyak 11,48 juta lot dengan nilai mencapai Rp237,63 miliar. Angka tersebut masih dapat berubah seiring berjalannya perdagangan karena pasar baru memasuki sesi awal.
IHSG Dihantui Sentimen Tekanan Eksternal
Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas memandang IHSG masih dibayangi tekanan eksternal pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Harga minyak mentah yang tinggi serta pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor.
Phintraco Sekuritas menyebut pergerakan pasar saham domestik juga akan dipengaruhi oleh perkembangan pasar global. Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah tingginya harga minyak dan berlanjutnya aksi jual di pasar obligasi Amerika Serikat (AS).
Tekanan dari pasar obligasi tercermin dari imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun yang naik lebih dari 5 basis poin hingga mencapai 5,234% pada 28 September 2026.
Investor global selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS. Data indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan dirilis pada Rabu (30/9/2026), disusul data nonfarm payrolls September pada Jumat (2/10/2026).
"Kedua data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah memang sempat turun dari level tertinggi hariannya pada 28 September. Namun, harga minyak masih menjadi perhatian karena berada pada level tinggi dan berpotensi menjaga tekanan inflasi global.
Baca Juga: IHSG Masih Terancam Ambruk, Waspadai Level 6.070
Baca Juga: IHSG Terancam Jebol 6.000, Harga Minyak dan Rupiah Jadi Biang Tekanan
Sementara itu, harga emas terkoreksi lebih dari 3% dan berada di sekitar US$4.148 per troy ounce. Pergerakan komoditas tersebut turut mencerminkan tingginya volatilitas di pasar global.
Dari sisi domestik, pelemahan Rupiah menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan IHSG. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sentimen investor, terutama ketika dolar AS menguat dan yield obligasi AS masih berada di level tinggi.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan tekanan terhadap IHSG masih berlanjut. Setelah indeks gagal bertahan di atas level 6.200, IHSG diproyeksikan menguji area support berikutnya di kisaran 6.000-6.100.
Pada perdagangan Senin (28/9/2026), IHSG ditutup anjlok 1,51% atau 94,03 poin ke level 6.147,85. Tekanan terjadi cukup luas dengan 532 saham melemah, sementara 180 saham menguat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: