Dedi Mulyadi Minta Pasokan Air Data Center BDx Jatiluhur Rp3,5 Triliun Tak Ganggu Petani
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menyoroti aspek keberlanjutan pasokan air seiring pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Kepastian ketersediaan air dinilai penting agar ekspansi investasi bernilai sekitar Rp3,5 triliun tersebut dapat berjalan tanpa mengganggu kebutuhan sektor pertanian dan masyarakat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM, menyampaikan hal tersebut saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek AI Campus 2 (CGK4) di kawasan Jatiluhur, Senin (28/9/2026).
Menurut KDM, kebutuhan air perlu dihitung sejak tahap awal karena fasilitas data center akan dikembangkan secara bertahap dan kapasitas konsumsinya berpotensi meningkat signifikan.
Berdasarkan penjelasan yang diterimanya, kebutuhan air BDx pada pengembangan berikutnya dapat mencapai sekitar 384 liter per detik (LPS) atau sekitar 0,4 meter kubik per detik.
Jika beroperasi pada kapasitas tersebut, konsumsi air dapat mencapai sekitar 33.000 meter kubik per hari. Namun, kebutuhan pada tahap awal disebut masih berada di kisaran 6.000 meter kubik dan akan meningkat mengikuti pengembangan fasilitas.
KDM menilai proyeksi kebutuhan tersebut perlu diselaraskan dengan sistem alokasi air yang sudah berjalan di wilayah Jatiluhur. Pemerintah, kata dia, harus memastikan ekspansi industri digital tidak mengurangi pasokan yang telah dialokasikan untuk sektor pertanian.
"Jangan sampai pas di perjalanan di Indonesia itu kalau sudah ribut-ribut politik, kasihan pengusaha harus fight dari sekarang. Airnya cukup enggak? Mengganggu petani enggak?" kata KDM, Selasa (29/9/2026).
KDM juga menjelaskan bahwa mekanisme pemenuhan kebutuhan air BDx berbeda dengan kemungkinan pola pengambilan air oleh sejumlah data center lainnya di Jawa Barat.
Untuk proyek BDx, air dari kawasan Jatiluhur dialirkan melalui sistem PDAM dan kemudian dibeli oleh perusahaan sebagai konsumen komersial. Dengan mekanisme tersebut, BDx tidak mengambil air secara langsung dari PJT II.
"Kalau ini kan ngambilnya tetap dari Jatiluhur, tapi masuk di PDAM. Maksudnya ngambil airnya dari Jatiluhur, masuknya ke PDAM, beli airnya dari PDAM. Kan beda," ujar KDM.
Menurut dia, perbedaan mekanisme tersebut penting karena pemanfaatan air dari jaringan sungai seperti Citarum harus mempertimbangkan berbagai kepentingan yang telah mendapatkan alokasi, termasuk pertanian.
KDM juga meminta sumber air untuk proyek data center lain di Jawa Barat ditelusuri secara objektif. Ia mencontohkan kawasan Karawang yang perlu dilihat lebih lanjut terkait sumber pasokan airnya.
"Kalau di Karawang berarti sumber airnya pasti dari PJT, pasti pakai Citarum kan? Citarum Barat. Kita objektif aja. Berapa kebutuhannya?" kata KDM.
KDM menegaskan bahwa sistem air Jatiluhur tidak hanya menopang kebutuhan masyarakat di Purwakarta. Alokasinya juga berkaitan dengan kebutuhan wilayah lain, antara lain Bekasi, Karawang, Subang hingga Jakarta.
"Airnya tidak mengganggu petani, tapi dia alokasikan di Bekasi, Karawang, dan Subang, Jakarta itu sudah ada alokasinya," ujarnya
Karena itu, setiap tambahan kebutuhan air untuk industri, termasuk pusat data, menurut KDM perlu dihitung dalam kerangka kebutuhan air secara keseluruhan.
Pendekatan tersebut menjadi penting seiring berkembangnya industri data center di Jawa Barat yang membutuhkan dukungan infrastruktur dalam jumlah besar, termasuk energi dan air.
Di sisi lain, KDM melihat kebutuhan industri terhadap air juga dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi apabila dikelola melalui mekanisme komersial tanpa mengurangi pelayanan dasar kepada masyarakat.
"Artinya harus ada air yang dijual berdasarkan aspek komersial. Maka BDx merupakan pasar komersial. Tanpa mengganggu pelayanan," katanya.
Ia bahkan membuka peluang agar penerimaan dari konsumen komersial dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan air bagi masyarakat.
"Bahkan logikanya adalah hasil keuntungan dari BDx ini bisa untuk meningkatkan kualitas layanan air untuk masyarakat umum," ujarnya
Baca Juga: Isu Duet Dedi Mulyadi-Gibran untuk 2029 Muncul, Begini Sikap PSI
Baca Juga: Dedi Mulyadi Berpeluang Jadi Cawapres Prabowo? Begini Kalkulasi Politik Terbaru
Diketahui, proyek BDx Data Centers di Jatiluhur memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. AI Campus 2 (CGK4) dibangun di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi dan menjadi bagian dari kawasan pengembangan seluas 11 hektare.
Kawasan tersebut direncanakan terdiri atas enam gedung dengan kapasitas pengembangan hingga 640 MW.
Pada gedung pertama, BDx menyiapkan kapasitas IT hingga 120 MW yang akan dikembangkan secara bertahap. Fase pertama yang telah dikontrak ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Bagi pemerintah daerah, kepastian pasokan air menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan investasi tersebut. Perhitungan kebutuhan air sejak awal juga dinilai dapat mengurangi potensi persoalan ketika kapasitas pusat data terus bertambah.
KDM pun meminta aspek ketersediaan dan alokasi air dipastikan sebelum pengembangan proyek berlangsung lebih jauh, sehingga kebutuhan industri dapat berjalan beriringan dengan kepentingan pertanian dan pelayanan masyarakat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: