Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Dibuka Menguat Rp17.925 per dolar AS di Awal Perdagangan

Rupiah Dibuka Menguat Rp17.925 per dolar AS di Awal Perdagangan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, bergerak menguat 56 poin atau 0,31 persen. Rp17.925 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.981 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.980 - Rp18.030.  

Ibrahim mengatakan penguatan mata uang rupiah dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang bertahan di atas US$ 90 per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia.

"Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal," kata dia kepada wartawan.

Asumsi Indonesia Crude Price dalam APBN 2026 berada di US$70 per barel, sedangkan ICP Juli telah mencapai US$81,68 per barel. ICP pada kisaran US$80-90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara.

Namun, tekanan fiskal akan semakin besar jika ICP bertahan di kisaran US$90-100 per barel atau lebih selama beberapa bulan.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik.

Berdasarkan estimasi dalam dokumen fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP US$1 per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5-Rp4 triliun. Namun, belanja negara berpotensi naik sekitar Rp10,3 triliun, sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun.

Baca Juga: Banggar Tantang Pemerintah Jaga Rupiah di Rp17.500

Baca Juga: IHSG Berat Tinggalkan Level 6.000, Rupiah Jadi Pemberat

Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal lebih besar ketika kenaikan harga minyak berlangsung lama.

Kondisi perekonomian akhir September, lanjut Ibrahim, tak lepas dari tantangan. Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan diambil di tengah berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. 

Meski melemah, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di kisaran USD146,5 miliar diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang memadai untuk melakukan stabilisasi nilai tukar.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: