BI Proyeksi Kebutuhan Valas Mulai Melemah di Akhir Tahun, Rupiah Bakal Menguat?
Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, mengatakan pola kebutuhan valas pada akhir kuartal III memang berbeda dibandingkan akhir bulan biasa.
Kebutuhan valuta asing (valas) secara historis mencapai puncaknya pada akhir kuartal III. Kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya kebutuhan valas untuk repatriasi dan impor yang turut memengaruhi pergerakan rupiah.
“Kuartal IIi memang siklus pemenuhan kebutuhan valas yang cukup tinggi, terkait dengan repatriasi, kebutuhan impor. Jadi akhir kuartal itu beda dengan akhir bulan,” kata Erwin dalam taklimat media bertema Perkembangan Respons Kebijakan Operasi Moneter Terkini, di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menurut Erwin, tingginya kebutuhan valas pada periode tersebut merupakan pola yang terjadi secara historis. Permintaan valas yang meningkat kemudian menjadi salah satu dinamika yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Jadi akhir kuartal itu, terutama kuartal III, memang secara historis menunjukkan pemenuhan kebutuhannya itu memang selalu peak,” ucapnya
Namun, kondisi kebutuhan valas biasanya berubah memasuki akhir tahun. Erwin mengatakan pembacaan BI menunjukkan pemenuhan kebutuhan valas pada akhir tahun secara historis lebih rendah dibandingkan periode kuartal III.
“Bacaan kita di akhir tahun biasanya lebih rendah daripada kuartal II,” kata Erwin.
Dengan berakhirnya kuartal III, tekanan dari faktor musiman kebutuhan valas tersebut diperkirakan tidak setinggi periode sebelumnya. Meski demikian, pergerakan rupiah tetap akan dipengaruhi dinamika global yang berada di luar kendali BI.
Baca Juga: BI Pastikan Transaksi Spot Tetap Jadi Senjata Utama Jaga Stabilitas Rupiah
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS, Terkatrol Tiga Instrumen Bank Indonesia
Erwin menegaskan BI akan terus merespons dinamika tersebut melalui ruang kebijakan yang tersedia. BI juga tetap menjaga stabilitas rupiah melalui bauran intervensi di pasar valuta asing.
“Jangan pernah punya simpulan bagaimana Bank Indonesia akan mengurangi intervensi spot. Kita tetap komit menjaga stabilitas, dengan bauran intervensi kita, baik itu di spot, di NDF maupun DNDF, dengan dinamika pasar yang ada,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebijakan BI ke depan akan tetap bergantung pada perkembangan data dan kondisi pasar.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: