Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Biaya Perawatan Penyakit Pernapasan Naik 106%, Prudential Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Biaya Perawatan Penyakit Pernapasan Naik 106%, Prudential Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keluhan kesehatan seperti batuk atau sesak napas kerap dianggap sepele selama masih memungkinkan seseorang beraktivitas seperti biasa. Namun, kebiasaan menunda pemeriksaan dapat membuat suatu penyakit baru terdeteksi ketika kondisinya sudah lebih serius.

Keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan sejumlah penyakit di Indonesia. Lebih dari 80% pasien kanker, misalnya, baru terdiagnosis pada stadium tiga atau empat. Pada tuberkulosis (TBC), keterlambatan diagnosis juga dapat membuat penanganan ikut tertunda sekaligus memperpanjang risiko penularan.

Momentum Hari Paru Sedunia yang diperingati setiap 25 September menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan paru sejak dini. Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan memeriksakan kesehatan secara berkala di setiap tahapan kehidupan, termasuk ketika mulai merasakan keluhan yang dianggap ringan.

Dorongan untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan juga berkaitan dengan berbagai hambatan yang masih dihadapi masyarakat. Studi Prudential plc bertajuk “Suara Pasien Indonesia” yang dilakukan bersama Economist Impact menunjukkan, sebanyak 9 dari 10 responden mengaku pernah menunda perawatan, sementara hampir setengahnya melakukan penundaan tersebut secara berulang.

Keputusan menunda perawatan tidak selalu berarti masyarakat mengabaikan kesehatan. Studi tersebut menunjukkan sejumlah faktor yang menjadi penghambat, mulai dari kurangnya informasi kesehatan yang jelas hingga kebutuhan keluarga yang kerap ditempatkan lebih tinggi dibandingkan kesehatan diri sendiri.

Di antara berbagai hambatan tersebut, biaya menjadi salah satu pertimbangan yang cukup nyata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 26,6% masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membiayai layanan kesehatan pada 2025.

Pengeluaran kesehatan yang dibayar langsung oleh masyarakat (out-of-pocket) diperkirakan mencapai sekitar Rp175 triliun. Beban tersebut bahkan membuat sekitar 12,8 juta penduduk berisiko jatuh miskin akibat biaya kesehatan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa satu kali rawat inap atau tindakan medis besar berpotensi menguras tabungan apabila tidak dipersiapkan dengan baik. Karena itu, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, seperti halnya menyiapkan dana pendidikan maupun masa pensiun.

Kekhawatiran tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap penyakit pernapasan dan kenaikan biaya layanan kesehatan akibat inflasi medis. Kementerian Kesehatan mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di Banten, Lampung, dan Jawa Barat pada September 2026.

Di sisi lain, biaya perawatan penyakit pernapasan juga menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data industri asuransi Indonesia, rata-rata biaya perawatan penyakit pernapasan meningkat 106,3%, dari Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.

Situasi tersebut memperkuat pentingnya upaya menjaga kesehatan sejak dini melalui pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta deteksi dini. Di saat yang sama, masyarakat juga perlu menyiapkan perlindungan finansial agar memiliki kesiapan ketika membutuhkan perawatan medis.

Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, mengatakan perlindungan kesehatan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga di tengah tingginya biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit.

“Di tengah tingginya biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit di Indonesia, memilih produk asuransi kesehatan dari perusahaan yang mampu memberikan perlindungan kesehatan sekaligus mendampingi Nasabah dalam tiap tahapan, menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga agar tidak perlu mengorbankan tabungan maupun tujuan keuangan jangka panjang ketika menghadapi kondisi medis yang tidak terduga,” kata Yosie.

Perlindungan di Setiap Tahap Kehidupan

Kebutuhan kesehatan setiap orang terus berubah seiring bertambahnya usia, gaya hidup, serta kondisi keluarga. Karena itu, perlindungan kesehatan tidak hanya dibutuhkan ketika risiko sudah terjadi, tetapi juga dapat mendukung upaya pencegahan dan menjaga kesehatan di setiap tahapan kehidupan.

Prudential Indonesia menyatakan komitmen tersebut melalui berbagai inisiatif promotif dan preventif, termasuk menyediakan akses pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat dan komunitasnya.

Menurut Yosie, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 4.570 Nasabah, Tenaga Pemasar, dan karyawan telah mengikuti free mini medical check-up melalui kolaborasi dengan jaringan PRUPriority Hospitals.

Selain pemeriksaan kesehatan, Prudential Indonesia juga mendorong masyarakat menjalani gaya hidup aktif melalui kegiatan PRUActive. Sejak 2023, program tersebut telah mengajak lebih dari 60.000 masyarakat untuk berolahraga bersama.

Berbagai inisiatif tersebut, kata Yosie, menjadi bagian dari upaya Prudential Indonesia untuk menghadirkan perlindungan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada saat Nasabah membutuhkan perawatan, tetapi juga mendorong langkah preventif dan kebiasaan hidup sehat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi