Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PLN EPI Uji Coba Co-Firing Amonia di PLTU Labuan pada 2027

PLN EPI Uji Coba Co-Firing Amonia di PLTU Labuan pada 2027 Kredit Foto: PLN EPI
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai menyiapkan pengembangan co-firing amonia sebagai salah satu opsi bahan bakar rendah karbon untuk menekan emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). 

Sebagai langkah awal, PLN EPI menargetkan uji coba skala kecil (pilot project) dengan tingkat campuran hingga 3 persen di PLTU Labuan pada 2027 mendatang.

Pengembangan teknologi ini diawali dengan studi pasokan amonia sepanjang 2026, di mana Pupuk Kujang Cikampek menjadi salah satu sumber awal yang dikaji. 

Langkah bertahap ini ditempuh untuk menguji keekonomian, aspek teknis, hingga kesiapan rantai pasok sebelum dikembangkan ke skala komersial.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa uji coba ini sangat penting karena co-firing amonia memiliki tantangan tersendiri dibandingkan bahan bakar konvensional, terutama dari sisi nilai keekonomian dan infrastruktur.

“Untuk amonia, kami sedang melakukan kajian, termasuk dari sisi pasokan dan teknologi. Kita perlu mulai dari pilot project untuk melihat aspek teknis sekaligus keekonomiannya,” ujar Hokkop dalam diskusi panel Electricity Connect 2026 bertajuk “Fuel Switching and Co-firing: The Way Forward for Emissions Reduction in Thermal” di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Hokkop mengakui, tingginya harga amonia di pasar saat ini masih menjadi salah satu tantangan utama dalam komersialisasi bahan bakar hijau tersebut di sektor ketenagalistrikan.

“Untuk saat ini, harganya masih menjadi tantangan. Karena itu, kita perlu melakukan pilot terlebih dahulu, belajar dari sana, kemudian melihat bagaimana teknologi dan keekonomiannya berkembang,” kata Hokkop.

Selain persoalan harga, PLN EPI juga mencermati ketersediaan pasokan. Mengingat amonia saat ini mayoritas terserap untuk industri pupuk, pemanfaatan di sektor energi harus memperhitungkan prioritas serta kontinuitas rantai pasok antarsektor.

“Kalau kita berbicara dengan produsen amonia di Indonesia, ada persoalan kebutuhan untuk pembangkit dan kebutuhan industri. Jadi harus dilihat bagaimana prioritas pemanfaatannya,” tutur Hokkop.

Baca Juga: 10 Juta Ton Biomassa RI Bisa Buka 150 Ribu Green Jobs, Ini Strategi PLN EPI

Baca Juga: PLN EPI Perkuat Rantai Pasok Energi PLTU Bolok di NTT

Dalam skenario roadmap PLN EPI, hasil pilot project di PLTU Labuan pada 2027 akan dievaluasi secara teknis dan ekonomis pada 2028. Selanjutnya, PLN EPI membidik integrasi rantai pasok pada 2029 serta studi kelayakan penerapannya hingga 3–5 persen atau lebih pada 2030.

Pengembangan amonia dan hidrogen ini menjadi bagian dari agenda jangka panjang PLN Group menuju Net Zero Emissions (NZE) 2060. Hokkop menegaskan, proses dekarbonisasi pembangkit eksisting harus dilakukan secara terukur tanpa mengabaikan keandalan pasokan listrik nasional.

“Untuk Indonesia, pembangkit yang ada sudah berjalan. Tidak mungkin semuanya langsung diganti dengan energi terbarukan. Jadi, transisi harus dilakukan secara bertahap,” pungkas Hokkop.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra