Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SKK Migas: Kebutuhan Minyak Pada 2030 Naik 124 Persen

SKK Migas: Kebutuhan Minyak Pada 2030 Naik 124 Persen Kredit Foto: SKK Migas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa kebutuhan minyak dan gas bumi (migas) nasional diproyeksikan bakal meningkat signifikan hingga tahun 2030. 

Lonjakan permintaan ini menempatkan sektor hulu migas pada posisi krusial dalam menopang ketahanan energi sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional di tengah agenda transisi energi.

Tenaga Ahli Kepala SKK Migas, Mohammad Kemal, memaparkan bahwa berdasarkan skenario permintaan tinggi (high demand scenario) dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), konsumsi minyak nasional diproyeksikan melambung hingga 124 persen pada 2030. 

Sementara itu, kebutuhan gas bumi sebagai energi transisi juga diperkirakan naik 143 persen dari garis dasar (baseline) dokumen KEN.

"Dalam high demand scenario, kebutuhan minyak pada tahun 2030 diproyeksikan masih meningkat 124%, sedangkan untuk kebutuhan gas yang memang dianggap sebagai energi transisi pada proses transisi energi ini masih meningkat 143% dibandingkan baseline yang digunakan dalam dokumen KEN tersebut," ujar Kemal saat berbicara di Kampus Politeknik Negeri Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Sebagai gambaran, konsumsi minyak mentah nasional saat ini berada di kisaran 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan kemampuan produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 600.000 bph. Kondisi ini membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta bph minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Kemal menekankan, kondisi tersebut membuktikan bahwa transisi energi tidak serta-merta menghentikan kebutuhan akan komoditas migas. Menurutnya, pemenuhan energi harus memperhatikan pendekatan trilema energi (energy trilemma), yakni keamanan pasokan (security), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (sustainability).

“Jadi kalau kita melihat kondisi dunia saat ini menghadapi lingkungan yang sangat dinamis dan menantang. Kami melihatnya utamanya ada dua faktor yang mempengaruhi, yaitu yang pertama mitigasi perubahan iklim dan perubahan dari polaritas dunia,” kata Kemal.

“Karena itu bagi kami diskusi mengenai transisi energi harus dilakukan secara keseluruhan dari trilema energi, yaitu energy security, affordability, dan sekaligus sustainability. Ketiganya ini harus berjalan bersama,” lanjutnya.

Strategi Peningkatan Produksi dan Optimalisasi Cekungan

Guna menekan ketergantungan impor dan menjaga ketahanan energi, SKK Migas terus memacu peningkatan produksi dari lapangan eksisting maupun eksplorasi baru. Kemal menyebut, potensi hulu migas Indonesia masih sangat besar untuk dikembangkan meski sudah berada pada fase matang (mature).

“Artinya, Indonesia masih memiliki potensi untuk memenuhi tantangan peningkatan produksi, namun kita harus mampu mengubah resource menjadi reserve, reserve menjadi production, dan production menjadi value bagi negara Indonesia. Dan inilah yang akan menjadi pekerjaan besar kita bersama,” tuturnya.

Dalam Rencana Strategis 2025–2035, SKK Migas menargetkan puncak produksi nasional mampu menyentuh angka 2,6 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/BOEPD), bahkan berpeluang menembus lebih dari 3 juta BOEPD jika didukung kondisi makroekonomi dan regulasi yang kondusif.

“Nah, untuk mencapai target tersebut, kita membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari high impact explorations, accelerating resource to production, full-scale EOR, dan sustainable productions yang semuanya didukung oleh collaborative partnerships, competitive supply chain, digital excellence, dan strengthening people and process," terang Kemal.

Di sisi lain, SKK Migas tak menampik adanya tantangan teknis seperti penurunan produktivitas sumur (decline rate), laju inflasi biaya proyek, hingga keterbatasan jumlah kontraktor. Oleh sebab itu, pembukaan Wilayah Kerja (WK) migas baru dan optimalisasi cekungan potensial menjadi kunci mendesak.

Baca Juga: RUU Migas Ditargetkan Rampung Oktober, Bagaimana Nasib SKK Migas?

Baca Juga: Bupati Siak Kesal, DBH Migas 2027 Dipangkas 70 Persen

Dari total 128 cekungan migas yang dimiliki Indonesia, baru 20 cekungan yang telah berproduksi secara aktif, sementara 65 cekungan lainnya belum dieksplorasi secara memadai.

“Dari sisi sumber daya, Indonesia juga masih memiliki potensi migas yang besar. Kita ada 128 cekungan yang mungkin terdapat minyak. Dari sana yang sudah diproduksikan baru 20 cekungan. Sekitar 65 cekungan masih belum cukup dieksplorasi,” ungkapnya.

Kemal menegaskan, fokus utama pemerintah dan SKK Migas saat ini adalah memastikan penemuan-penemuan cadangan baru (discovery) dapat segera ditindaklanjuti hingga berproduksi (onstream).

“Kita harus membawa discovery tersebut melalui proses appraisal, development, FID, construction, hingga akhirnya onstream. Karena ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak yang kita temukan, tapi berapa banyak yang akhirnya kita produksikan,” tegas Kemal.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra