Kredit Foto: Kementerian perindustrian
Regenerasi menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan industri batik nasional. Peran generasi muda dinilai tidak harus selalu berkaitan dengan aktivitas membatik, tetapi bisa masuk melalui desain, teknologi, pemasaran digital, hingga pengelolaan lingkungan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, industri batik memiliki hubungan erat dengan identitas budaya Indonesia sekaligus menyimpan potensi ekonomi. Karena itu, pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan upaya membuat perajin dan pelaku usahanya mampu bertahan menghadapi perubahan pasar.
“Pelestarian juga perlu berjalan bersama upaya untuk membuat para perajin batik mampu bertahan dan berkembang,” ujar Faisol dalam Community Engagement bertajuk “Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry” dalam rangkaian Industrial Festival x Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Kamis (1/10/2026).
Menurut Faisol, keterlibatan anak muda dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kemampuan mereka. Perajin yang sudah memiliki produk berkualitas, misalnya, dapat berkolaborasi dengan mahasiswa atau generasi muda yang menguasai fotografi, penulisan, pembuatan katalog digital, hingga pemasaran melalui e-commerce.
Kolaborasi tersebut mempertemukan keterampilan yang sudah dimiliki perajin dengan kemampuan baru yang dibawa generasi muda. Dengan begitu, kontribusi terhadap industri batik tidak hanya dilakukan melalui proses produksi.
“Ketika keduanya ini bertemu maka menjadikan sebuah kolaborasi yang kuat. Dan hal tersebut dapat menjadi bentuk kontribusi konkret dari generasi muda atau Gen Z,” katanya.
Faisol juga melihat peluang keterlibatan generasi muda dalam pemanfaatan teknologi. Kemampuan membuat konten, membaca data, membangun komunitas, hingga mengelola pemasaran digital dapat membantu pelaku usaha batik menjangkau konsumen dengan cara yang berbeda.
Di sisi desain, batik juga dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa menghilangkan identitas motif dan asal-usulnya. Produk batik dapat diarahkan untuk kebutuhan yang lebih beragam, mulai dari pakaian untuk kuliah dan bekerja hingga busana sehari-hari.
Aspek lingkungan juga menjadi ruang lain bagi generasi muda untuk terlibat. Mereka dapat membantu mencari pendekatan produksi yang lebih bertanggung jawab dalam penggunaan air dan bahan, termasuk mengurangi potensi pencemaran limbah dari proses produksi batik.
Peluang pengembangan tersebut berjalan di tengah pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas. Pada kuartal II 2026, sektor ini tumbuh 5,32 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Industri batik juga mencatat peningkatan nilai ekspor. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan ekspor produk batik pada 2025 mencapai US$20,14 juta, naik 32,50 persen dari US$15,20 juta pada 2024. Sementara itu, nilai ekspor produk batik pada kuartal II 2026 tercatat US$4,39 juta.
Baca Juga: Kemenperin Soroti Krisis Regenerasi, 26 Ribu Perajin Batik Hilang
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur Melambat, Kemenperin Soroti Dampak BBM Dunia
“Ketika kita berbicara tentang industri batik yang lebih kuat, kita sedang membicarakan seluruh perjalanan produk, dari ide dan keterampilan perajin, proses produksi, mutu, cerita, hingga pengalaman orang yang membeli dan memakainya,” ujar Faisol.
Untuk memperingati Hari Batik Nasional 2026, Kemenperin bersama Yayasan Batik Indonesia memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal industri batik dan melihat peluang keterlibatan sesuai minat dan kompetensi mereka.
Rangkaian Puncak Pameran Hari Batik Nasional 2026 berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Surabaya. Kegiatan tersebut diisi kuliah umum, talkshow, workshop, serta penyerahan Batikmark kepada IKM dan melibatkan lebih dari 40 peserta pameran.
Kemenperin juga menjalankan sejumlah program pembinaan bagi IKM batik, termasuk fasilitasi Batikmark dan pendampingan diversifikasi produk.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: