Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Singgung Nasib Gibran, Gatot Nurmantyo Usul Prabowo Ajak SBY dan Megawati Makan Nasi Goreng

Singgung Nasib Gibran, Gatot Nurmantyo Usul Prabowo Ajak SBY dan Megawati Makan Nasi Goreng Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wacana pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mendapat usulan baru dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo.

Gatot mengusulkan agar Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turut dihadirkan dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, jika Prabowo, Megawati, dan SBY dapat duduk bersama, pertemuan itu akan memiliki makna politik yang lebih luas.

Gagasan tersebut disampaikan Gatot dalam perbincangan di kanal YouTube Hersubeno Point. Ia mengaitkan kemungkinan pertemuan itu dengan wacana "politik nasi goreng" yang belakangan dikaitkan dengan agenda silaturahmi Prabowo dan Megawati.

"Jangan hanya dua orang dong. Kalau Pak Prabowo hebat, beliau bisa mengajak Pak SBY juga. Kenapa kok Pak SBY? Karena selama ini kan hubungan antara Ibu Megawati dan Pak SBY terlihat ada jarak. Kalau tiga mantan presiden ini bersatu dan disatukan oleh Pak Prabowo, ini kan luar biasa," ujar Gatot.

Bagi Gatot, pertemuan tiga tokoh yang pernah memimpin Indonesia tersebut dapat menjadi momentum rekonsiliasi sekaligus konsolidasi nasional.

Ia menilai pertemuan itu juga dapat memberikan sinyal mengenai stabilitas politik Indonesia ke depan. Terlebih, Prabowo memiliki latar belakang militer yang sama dengan SBY.

"Bagaimanapun juga Pak SBY adalah mantan presiden dan punya latar belakang yang sama dengan Pak Prabowo, sama-sama dari akademi militer. Ada jiwa korsa mantan presiden di situ," kata Gatot.

Namun, gagasan tersebut tidak berhenti pada pertemuan tiga tokoh. Gatot kemudian mengaitkannya dengan dinamika politik nasional yang sedang berlangsung di Mahkamah Konstitusi (MK), khususnya perkara yang menyangkut posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Gatot, apabila dinamika di MK berujung pada diskualifikasi Gibran, kondisi politik tersebut dapat membuka ruang bagi PDI Perjuangan untuk bergabung mendukung pemerintahan Prabowo secara penuh.

"Kata kuncinya ada di situ. Jika diskualifikasi terjadi, saya yakin PDI Perjuangan mau masuk dalam kabinet," ujar Gatot.

Baca Juga: Kapolri Diganti 'Cepat', Gatot Nurmantyo Bicara 'Radical Break' Prabowo

Gatot kemudian menghubungkan skenario tersebut dengan gagasan pertemuan Prabowo, Megawati, dan SBY. Menurut dia, jika ketiga tokoh tersebut hadir dalam satu agenda silaturahmi, momentum itu dapat menjadi bagian dari konsolidasi politik nasional.

"Kalau 'politik nasi goreng' itu dihadiri oleh tiga pimpinan bangsa, permasalahan politik nasional bisa selesai dan Indonesia bisa langsung melesat," pungkasnya.

Dengan demikian, gagasan Gatot tidak hanya menyangkut siapa yang hadir dalam pertemuan politik Prabowo dan Megawati. Ia juga mengaitkan kemungkinan pertemuan tersebut dengan dinamika hubungan antartokoh politik, rekonsiliasi nasional, serta proses hukum yang tengah berjalan di MK terkait posisi Gibran.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat