Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Listrik Bukan Jaminan Sejahtera, Warga Prasejahtera Masih Dibebani Masalah SDM

Listrik Bukan Jaminan Sejahtera, Warga Prasejahtera Masih Dibebani Masalah SDM Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Akses listrik bagi masyarakat prasejahtera dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi masyarakat, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan energi.

Salah satunya, program Light Up the Dream (LUTD) PLN UID Jawa Barat perlu diikuti pengembangan sumber daya manusia (SDM) agar listrik yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan keluarga.

Subject Content Specialist Creativepreneur BINUS Bandung, Nur Azmi Karim mengatakan, keberadaan listrik memang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga menjalankan aktivitas usaha. Namun, dampak ekonomi dari akses tersebut sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya secara produktif.

“Jangan sampai listrik sebenarnya perlu, tapi ada yang lebih perlu. Misalnya pembangunan tentang human capital, bagaimana membangun sumber daya manusianya supaya dia cerdas,” ujar Nur Azmi, Minggu (4/10/2026).

Menurut dia, ketersediaan listrik pada dasarnya merupakan modal awal yang dapat memperluas peluang masyarakat. Penerangan yang memadai, misalnya, memungkinkan anak-anak memiliki waktu belajar lebih panjang sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas produktif pada malam hari.

Namun, akses energi belum otomatis meningkatkan taraf hidup apabila tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas masyarakat.

“Kalau ketersediaan listrik pasti ada, pasti taraf hidup juga akan meningkat, asumsinya. Tapi kembali lagi perlu dilakukan analisis, apakah cukup ketersediaan listrik itu bisa meningkatkan taraf hidup,” katanya.

Nur Azmi menilai keterkaitan antara listrik dan peningkatan kesejahteraan akan semakin terlihat ketika energi tersebut digunakan untuk kegiatan ekonomi. Masyarakat dapat memanfaatkan listrik untuk menjalankan peralatan produksi, mengembangkan industri rumahan, maupun memperluas jenis usaha yang dapat dilakukan.

“Dengan listrik mereka bisa melakukan usaha, misalnya industri. Dengan industri itu kan mereka punya pekerjaan. Kalau punya pekerjaan pasti punya pendapatan,” ujarnya.

Karena itu, program LUTD menurutnya dapat menjadi pintu masuk bagi program pemberdayaan yang lebih luas. Setelah akses listrik terpenuhi, masyarakat perlu mendapatkan dukungan berupa peningkatan keterampilan, literasi teknologi, pemahaman keuangan, hingga pengembangan kapasitas usaha.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar manfaat program tidak berhenti pada tersedianya sambungan listrik, tetapi berkembang menjadi peningkatan produktivitas rumah tangga dan terbentuknya sumber pendapatan baru.

Nur Azmi menyebut desain program lanjutan PLN UID Jawa Barat dapat disesuaikan dengan karakteristik penerima manfaat dan potensi ekonomi di setiap wilayah. Dengan pendekatan berbasis potensi lokal, pemanfaatan listrik dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi yang memang memiliki peluang berkembang.

“Harus dilihat dari kesiapan wilayah tersebut juga, kesiapan masyarakatnya, kesiapan kebijakan pemerintahannya,” katanya.

Baca Juga: Pertamina Siapkan Bisnis Energi Hijau sebagai Sumber Pertumbuhan Baru

Baca Juga: Penguatan Listrik Jampang Kulon Buka Peluang Hilirisasi Komoditas Lokal

Baca Juga: Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi Motor Listrik MBG Rp1,22 Triliun

Selain penguatan kapasitas, ia mendorong adanya evaluasi jangka panjang terhadap penerima manfaat program. Evaluasi diperlukan untuk mengukur sejauh mana akses listrik berdampak terhadap produktivitas, kreativitas, inovasi, serta kondisi ekonomi keluarga.

Menurut dia, pengukuran tersebut penting agar program pemberdayaan memiliki indikator keberhasilan yang lebih luas dibandingkan sekadar jumlah sambungan listrik yang berhasil diberikan. Dengan demikian, LUTD dapat diposisikan sebagai bagian awal dari ekosistem pemberdayaan masyarakat.

"Akses energi menjadi fondasi, sementara peningkatan kualitas SDM dan kapasitas ekonomi menjadi faktor yang menentukan apakah manfaat listrik dapat berkembang menjadi peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan,"pungkasnya

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Dian Ihsan