Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Geger Dugaan Wabah Pes di Siberia: Laboratorium Ditutup, Ratusan Orang Dikarantina, Pejabat Rusia Diduga Tutupi Fakta

Geger Dugaan Wabah Pes di Siberia: Laboratorium Ditutup, Ratusan Orang Dikarantina, Pejabat Rusia Diduga Tutupi Fakta Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pihak berwenang Rusia menerapkan langkah-langkah penanganan darurat, termasuk karantina fasilitas medis dan kewajiban penggunaan masker, menyusul kematian seorang teknisi laboratorium akibat dugaan terinfeksi wabah pes pneumonik di wilayah Oblast Irkutsk, Siberia.

Insiden tragis ini menimpa Daria Shipilova (28), teknisi laboratorium di Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk di kota Shelekhov. Korban mengembuskan napas terakhir pada 2 Oktober 2026 setelah sepekan sebelumnya tak sengaja memecahkan tabung sampel biologis yang berisi patogen berbahaya saat pengujian rutin.

Menanggapi kejadian tersebut, otoritas kesehatan melakukan isolasi dan karantina ketat terhadap setidaknya 197 orang yang teridentifikasi melakukan kontak dengan korban untuk mencegah potensi penyebaran infeksi lebih luas.

Berdasarkan laporan media lokal Lyudi Baikala, sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Irkutsk menghentikan operasional dan memberlakukan karantina selama tiga minggu. Rumah sakit yang terdampak antara lain Rumah Sakit Kota No. 1, 3, dan 10, serta Rumah Sakit Klinik Anak Ivanovo-Matreninsk.

Sumber dari sektor medis setempat mengungkapkan bahwa para dokter di Irkutsk mendiskusikan penanganan kasus pes secara terbuka, meskipun terminologi penyakit tersebut tidak tercantum dalam dokumen resmi pemerintah.

Sementara itu, dinamika juga terjadi di sektor industri. Direktur Pabrik Aluminium Irkutsk (IrkAZ) di Shelekhov, Artem Fominykh, sempat memberlakukan kewajiban penggunaan masker bagi seluruh karyawan pada 2 Oktober dengan alasan situasi darurat daerah. Namun, dua hari berselang, Fominykh merevisi keterangannya dan mengklaim kebijakan itu hanya respons rutin terhadap penyakit pernapasan musiman.

Langkah penanganan di lapangan diwarnai penarikan informasi dan pengeditan pernyataan publik oleh para pejabat Rusia:

Pemerintah Kota Baykalsk sempat menerbitkan peringatan resmi berisi imbauan agar warga tidak mendatangi Shelekhov akibat adanya kasus pes. Unggahan tersebut dihapus kurang dari dua jam setelah ditayangkan.

Sementara itu, Media Pro-Kremlin (REN TV) menghapus seluruh unggahan Telegram yang memuat informasi terkait jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit.

Selain itu, Gubernur Republik Buryatia Alexei Tsydenov semula mengonfirmasi di media sosial bahwa Shipilova meninggal akibat pes. Ia kemudian menyunting pernyataan tersebut dengan menambahkan kata "kemungkinan".

Senada dengan Gubernur Buryatia, Gubernur Oblast Irkutsk, Igor Kobzev menghindari penggunaan kata "pes" dan hanya menyebutnya sebagai "infeksi sangat berbahaya" sebelum akhirnya menyatakan korban menderita pneumonia dari penyebab yang belum diketahui.

Tindakan peredaman informasi ini memicu sorotan karena bukan kali pertama terjadi. Pada April lalu, otoritas setempat juga sempat meremehkan wabah penyakit ternak di wilayah Siberia yang berujung pada pemotongan massal dan karantina desa, dengan mengklaim bahwa insiden tersebut hanya infeksi bakteri ringan.

Meskipun wabah pes pneumonik tergolong sangat berbahaya karena dapat menular antarmanusia melalui percikan udara (droplet), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para pakar menegaskan bahwa penyakit ini dapat ditangani secara efektif jika diberikan terapi antibiotik sejak dini.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat