Pergantian Kapolri Baru Disebut Super Kilat, Profesor Unas: Enggak, Presiden Sudah Mengamati 2 Tahun Profil Suyudi
Kredit Foto: Istihanah
Guru Besar Universitas Nasional, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, menyoroti perombakan besar-besaran di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) usai pelantikan Kapolri baru, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Kurang dari 1x24 jam usai dilantik, Jenderal Suyudi langsung memutasi 88 Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen), termasuk mengganti 19 Kapolda.
Menurut Prof. Yuddy, langkah kilat tersebut merupakan strategi taktis kepemimpinan agar proses pembenahan internal dan transisi di tubuh Polri dapat berjalan lancar tanpa memberikan ruang bagi penolakan atau hambatan dari pihak-pihak tertentu.
"Penunjukan Jenderal Suyudi bukanlah keputusan yang mendadak. Presiden Prabowo Subianto telah melakukan pemantauan dan menyeleksi para jenderal secara saksama selama kurang lebih dua tahun terakhir," ungkap Prof. Yuddy.
Proses seleksi tersebut dibantu oleh jaringan intelijen untuk mencari sosok terbaik yang pantas memimpin institusi dengan 477.000 personel tersebut.
Presiden Prabowo menitikberatkan pemilihan Kapolri pada dua kriteria utama: integritas dan profesionalisme. Integritas diukur dari rekam jejak yang bersih, jujur, dan ketegasan menolak praktik suap. Sementara profesionalisme dilihat dari perjalanan karier yang berjenjang, lengkap, dan berprestasi.
Jenderal Suyudi dinilai memenuhi kedua kriteria mutlak tersebut. Hal ini dibuktikan melalui rekam jejaknya yang lurus, mulai dari menjabat sebagai Kapolda Banten hingga ketegasannya dalam memberantas peredaran narkoba saat memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).
Dalam merombak jajaran 88 Pati dan Pamen, Kapolri Suyudi menerapkan standar serupa. Ia secara cermat menempatkan figur-figur Pejabat Utama (PJU) dan Kapolda yang sejalan dengan visinya sekaligus memiliki loyalitas penuh terhadap amanat reformasi dari Presiden.
Arah kebijakan Jenderal Suyudi dalam membenahi Polri diyakini sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh idolanya, yakni Kapolri pertama Raden Said Soekanto dan Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Kedua tokoh tersebut dikenal dengan kesederhanaan dan ketegasan yang lurus.
Visi utama kepemimpinan Suyudi adalah menjadikan polisi kembali pada khitahnya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan yang benar-benar dicintai masyarakat.
Karakter kepemimpinan ini didukung oleh profil Jenderal Suyudi yang lahir dari keluarga sederhana dan religius di Banten. Kedekatannya dengan nilai-nilai spiritual dan ketegasannya menjadi benteng moral yang kuat dalam memimpin institusi sebesar Polri.
"Profil Kapolri Suyudi digambarkan sebagai sosok yang religius dan berasal dari keluarga sederhana di Banten. Kedekatannya dengan nilai-nilai spiritual diyakini menjadi benteng moralnya dalam memimpin institusi sebesar Polri," kata mantan Menteri PAN RB di era periode pertama Presiden Jokowi tersebut.
Prof. Yuddy meyakini bahwa perombakan tahap pertama ini barulah permulaan. Evaluasi internal dan pembenahan personel diproyeksikan akan terus berlanjut secara berjenjang hingga ke tingkat jajaran Kepolisian Resor (Polres) di seluruh Indonesia.
Tujuan akhir dari langkah radikal ini adalah memulihkan kepercayaan dan kecintaan murni publik terhadap Polri. Dengan kinerja yang nyata, profesional, dan berintegritas, institusi kepolisian ke depannya dinilai tidak lagi membutuhkan rekayasa citra atau bantua buzzer di media sosial.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: