Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rocky Gerung Berubah, Pengamat: Yang Suka Tawuran Politik Jangan Terlampau Sadis, Kekuasaan itu Bisa Mengubah Iman Politik

Rocky Gerung Berubah, Pengamat: Yang Suka Tawuran Politik Jangan Terlampau Sadis, Kekuasaan itu Bisa Mengubah Iman Politik Kredit Foto: Christian Andy
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, angkat bicara menanggapi gelombang kritik dan perundungan (bullying) publik terhadap Rocky Gerung usai dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Adi menilai publik tidak perlu melontarkan kritik secara berlebihan hanya karena Rocky memutuskan untuk bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan.

Menurutnya, keputusan tersebut merupakan hak politik pribadi yang tentu telah melalui kalkulasi matang dari yang bersangkutan.

"Saya kira nggak perlu mengkritik Rocky Gerung secara berlebihan, hanya karena bergabung dengan kekuasaan sebagai anggota Wantimpres. Rocky itu juga manusia, Rocky punya hak politik dan punya alasan dan kalkulasi secara matang," ujar Adi Prayitno, Senin (5/10/2026).

Kendati demikian, Adi tidak menampik jika reaksi keras publik muncul akibat kontrasnya sikap Rocky selama ini.

Publik terlanjur melekatkan citra "anti-kekuasaan" pada diri Rocky, mengingat rekam jejaknya yang kerap melontarkan kritik tajam, seolah memposisikan kekuasaan sebagai hal yang buruk dan menempatkan argumennya sebagai yang paling benar.

Perubahan haluan ini praktis memicu keheranan publik, terlebih Rocky kini harus duduk bersama dalam satu lembaga dengan figur-figur yang selama ini menjadi sasaran kritik pedasnya.

"Tapi saya membayangkan bagaimana suasana kebatinan Rocky kalau satu kantor dengan Qodari dan Anwar Usman, dua sosok yang sering dikritik diserang agresif oleh Rocky, dan sikap politiknya Rocky ke depan karena ia dianggap paling sering keras menyerang Wapres Gibran," imbuhnya.

Adi melihat dinamika ini sebagai tontonan menarik di mana figur-figur yang kerap "tawuran" opini di ruang publik pada akhirnya bisa berada dalam satu ritme kerja yang sama di dalam pemerintahan.

Ia pun berpesan kepada masyarakat agar tidak terlampau baper atau bersikap terlalu keras dalam menyikapi dinamika politik, mengingat kepentingan kekuasaan kerap kali mencairkan sekat-sekat pertikaian antartokoh.

"Yang suka tawuran opini politik ternyata bisa berada dalam satu ritme yang sama. Di negara kita jangan terlampau ngotot karena urusan politik, jangan sadis-sadis juga, kalau pada akhirnya kekuasaan itu juga mengubah iman politik kita," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat