Projo: Pak Prabowo Tidak Perlu Mengganti Semua Orang Jokowi, Kalau Masih Berprestasi Kenapa Diganti?
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak perlu mengganti seluruh pejabat yang sebelumnya bekerja pada era sebelumnya hanya untuk menunjukkan bahwa kekuasaan pemerintahan telah berpindah dari Eks Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).
Sekretaris Jenderal Pro Jokowi (Projo) Freddy Alex Damanik mengatakan pergantian pejabat seharusnya didasarkan pada kebutuhan pemerintahan dan kinerja, bukan semata-mata latar belakang politik seseorang.
Baca Juga: Bayi Baru Lahir Sudah Punya Utang Rp30 Juta Lebih Gegara Jokowi, Kata Refly Harun
Freddy menegaskan, pejabat yang pernah berada dalam pemerintahan sebelumnya tidak otomatis harus dicopot setelah dimulainya kepemimpinan dari Prabowo
“Pak Prabowo tidak perlu mengganti semua orang beliau untuk membuktikan bahwa beliaulah sekarang yang berkuasa,” tegas Freddy, dikutip Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, seorang pejabat seharusnya dinilai berdasarkan kemampuan dan hasil kerjanya. Jika masih berprestasi serta dibutuhkan dalam pemerintahan, tidak ada alasan pergantian dilakukan hanya karena pejabat tersebut berasal dari era sebelumnya.
“Kalau menteri yang berasal dari pemerintahan sebelumnya masih berprestasi dan dipertahankan oleh presiden, kenapa harus diganti?” ujarnya.
Adapun Projo juga meminta publik tidak menggunakan kategorisasi sebagai ukuran utama dalam membaca setiap keputusan dari Prabowo. Pihaknya sendiri menegaskan tidak masalah dengan reshuffle yang baru-baru ini dilakukan oleh presiden.
“Kalau memang presiden menilai perlu mengganti, kenapa kita sebagai pendukung harus marah? Kan kita juga pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran,” ujar Freddy.
Sebaliknya, apabila seorang pejabat dari era sebelumnya tetap dipertahankan, keputusan itu juga tidak seharusnya dipandang sebagai tanda bahwa pemerintahan saat ini masih dikendalikan Jokowi.
Menurut Freddy, dalam sistem presidensial, keputusan mengenai siapa yang membantu presiden menjalankan pemerintahan merupakan kewenangan presiden yang sedang memegang mandat.
Freddy menekankan, pergantian pejabat idealnya dilihat dari kebutuhan pemerintahan dan capaian kerja. Ia meminta masyarakat tidak terjebak pada narasi bahwa setiap perubahan posisi merupakan upaya menyingkirkan kelompok politik tertentu.
Diketahui, Prabowo melakukan reshuffle terbaru berlangsung pada Jumat (2/10/2026). Sejumlah posisi strategis mengalami perubahan, mulai dari menteri koordinator, menteri teknis, wakil menteri hingga Kapolri.
Ia juga melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Salah satu nama yang paling menarik perhatian adalah Pengamat Politik Rocky Gerung.
Pelantikan Rocky menjadi perhatian karena selama ini ia dikenal sebagai sosok yang kerap melontarkan kritik terhadap pemerintahan, termasuk terhadap Jokowi. Namun, Rocky memastikan bahwa perubahan posisinya tidak otomatis mengubah pandangan politiknya.
Baca Juga: Bicara Pendamping Prabowo, Gibran Diklaim Bisa dengan Mudah Diganti Anies Baswedan dan AHY
"Ya kan cuma pindah. Saya cuma pindah dari luar ke dalam, apa bedanya? Sikap saya tetap, pandangan saya tetap, radical break. Justru lebih enak di dalam," ujar Rocky.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: